Begini Tanah Bergerak Melahirkan Bencana di Sukajaya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara yang menunjukkan kondisi Desa Adat Urug pascabencana tanah longsor dan banjir bandang di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. ANTARA/Galih Pradipta

    Foto udara yang menunjukkan kondisi Desa Adat Urug pascabencana tanah longsor dan banjir bandang di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 10 Januari 2020. ANTARA/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung mengungkap penyebab tanah longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, pada 1 Januari 2020. Bencana itu mengubur sejumlah akses jalan, menerjang hampir 20 rumah, serta menewaskan tujuh orang.  

    Hingga kini sejumlah rumah dan permukiman masih terancam oleh potensi pergerakan tanah yang sama. Ribuan orang yang terisolir masih harus mengungsi.  

    Kepala PVMBG Kasbani, lewat keterangan tertulis Kamis 16 Januari 2020, menerangkan bahwa wilayah-wilayah yang longsor di Sukajaya umumnya perbukitan bergelombang berupa lereng agak sampai sangat terjal. Pada beberapa tempat hampir tegak dengan kemiringan antara hingga nyaris 90 derajat.

    Kondisi air permukaan di sekitar lokasi gerakan tanah, kata Kasbani, dipengaruhi oleh curah hujan dan aliran mata air pada lereng di bagian bawah perbukitan. “Keairan pada saat kejadian gerakan tanah mengalami kenaikan yang tinggi akibat curah hujan yang turun sebesar 301,6 milimeter dalam satu hari,” katanya merujuk hujan ekstrem pada dinihari 1 Januari lalu. 

    Di Kampung Sinar Harapan di mana 18 rumah terkubur dan tujuh orang meninggal, material longsoran terdeteksi bergerak ke luar lereng melanda permukiman yang berada pada lembah di bawahnya. Longsoran-longsoran pada lereng yang telah bercampur dengan aliran air permukaan kemudian mengalir melalui alur-alur atau anak sungai yang bermuara di sungai Cidurian.

    Banyaknya aliran material longsoran yang bercampur dengan air yang bermuara di Sungai Cidurian mengakibatkan sungai ini meluap. Hasilnya adalah banjir bandang merusak rumah dan bangunan lainnya di sepanjang aliran sungai.

    Saat pemeriksaan pasca bencana, PVMBG masih menjumpai aliran-aliran air yang cukup deras pada material longsoran yang masih tertahan pada bagian atas lereng. Di Kecamatan Sukajaya memang banyak mengalir sungai besar dan anak-anak sungai atau alur tahunan. Sungai dan anak-anak sungai ini bermuara di Sungai Cidurian yang mengalir dari selatan ke utara.

    Gerakan tanah umumnya terjadi pada lahan berupa ladang, kebun campuran, lahan kosong di sekitar permukiman, dan lahan belukar di sekitar lereng di atas atau bawah tubuh jalan. Menjadi tak mengejutkan karena berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor, Sukajaya termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah–tinggi.

    “Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali,” kata Kasbani memperingatkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.