Eks Rektor ITB Curhat Tugas Terberat: Ibarat Masuk Bandara ...

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rektor ITB Kadarsah Suryadi menyampaikan orasi ilmiah didepan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo dan para guru besar saat peringatan 95 tahun kiprah ITB sebagai lembaga pendidikan tinggi teknik pertama di Indonesia di Aula Barat ITB, Bandung, Jawa Barat, 3 Juli 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Rektor ITB Kadarsah Suryadi menyampaikan orasi ilmiah didepan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo dan para guru besar saat peringatan 95 tahun kiprah ITB sebagai lembaga pendidikan tinggi teknik pertama di Indonesia di Aula Barat ITB, Bandung, Jawa Barat, 3 Juli 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Mantan Rektor ITB, Kadarsah Suryadi, menyebut tugas terberat adalah menghasilkan mahasiswa yang punya keterampilan dan menyelesaikan studinya. Dia mengungkapkannya sehari sebelum resmi mengakhiri kepemimpinannya sebagai rektor periode 2015-2020, Minggu 19 Januari 2020. 

    “Juga mengembangkan dan menghasilkan ilmu baru serta lulusan yang bisa menciptakan lapangan kerja,” kata pria berusia 57 tahun itu tentang tentangan terberat semasa menjadi Rektor ITB. 

    Kadarsyah menuturkan, pekerjaan berat lainnya terkait hubungan dengan pihak luar ITB. Dia mencurahkan isi hatinya alias curhat bahwa menjaga jaringan dan relasi dengan banyak pihak itu jadwalnya kadang tidak bisa diatur seperti jadwal akademik. Tugas itu, menurutnya, menguras waktu.

    "Jadi rektor itu ibarat masuk bandara yang siap terbang ke mana pun, lalu pulang ke rumah hanya ganti koper,” katanya sambil menambahkan, "Buat keluarga di rumah itu hanya sisa waktu."

    Kadarsyah menyadari tugas itu tak bisa dihindari karena menyambangi banyak pihak itu berarti pula membantu membuka perolehan dana operasional untuk ITB. Dia mengilustrasikannya dengan rencana kerja anggaran saat awal menjabat rektor sebesar Rp 1,2 triliun. Pada masa akhir tugasnya dirancang Rp 2,2 triliun pada 2020.

    Agar tubuhnya selalu fit, dosen di ITB sejak 1987 dan pernah menjadi mahasiswa teladan di ITB dan nasional pada 1985 tersebut berusaha tidur enak walau sebentar, makan teratur, dan berolahraga. Di rumah, kakinya dibiasakan mengayuh sepeda statis meski hanya selama 30 menit setiap hari. Pilihan lainnya berjalan kaki atau berenang.

    Selain menjadi rektor, Kadarsah tidak lepas dari kewajiban mengajar dan bimbingan mahasiswa di Fakultas Teknik Industri ITB, serta publikasi ilmiah. Di sela kesibukannya itu, ada momen yang selalu membuatnya senang. “Waktu wisuda mahasiswa, saya melihat mereka hasil didikan dosen dan memenuhi harapan orang tua bangsa dan negara,” ujar pemilik gelar doktor dari Universite de Droit, d\'Economie et des Sciences d\'Aix Marseille Prancis pada 1992 itu.

    Pada hari ini, Senin 20 Januari 2020, Kadarsyah resmi meletakkan jabatan rektor dan menyerahkannya kepada Reini Wirahadikusumah untuk periode 2020-2025. Kepada penerusnya itu, Kadarsah Suryadi juga berpesan masih banyak pekerjaan rumah. Di antaranya, melanjutkan program entepreneur university di ITB. 

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.