Wabah COVID-19, UI Ciptakan Disinfektan Alternatif dari Sinar UV

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyiapkan alat penyemprotan cairan disinfektan pada Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2020. Pemerintah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit darurat penanganan virus COVID-19 serta akan menjadi rumah isolasi bagi pasien yang rencannya akan digunakan pada hari ini. ANTARA

    Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyiapkan alat penyemprotan cairan disinfektan pada Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2020. Pemerintah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit darurat penanganan virus COVID-19 serta akan menjadi rumah isolasi bagi pasien yang rencannya akan digunakan pada hari ini. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) mengembangkan dua prototipe alat disinfektan dengan sinar ultraviolet (UV). Kedua prototipe alat untuk suci virus dan bakteri patogen yang dimaksud adalah yang bisa dipegang (handheld sterilizer) dan alat yang ditempel di dinding (room sterilizer). 

    Keduanya khusus dirancang untuk keperluan medis. "Akan sangat membantu rumah sakit yang saat ini kewalahan mendapatkan alat bantu disinfektan akibat kelangkaan maupun karena melambungnya harga disinfektan cair di tengah wabah virus COVID-19," kata Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, Abdul Haris, pada Jumat 27 Maret 2020.

    Haris menerangkan, instrumen disinfektan menggunakan sinar UV dikembangkan tim peneliti FMIPA UI menggandeng peneliti lainnya. Mereka berasal dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) dan berada di bawah koordinasi Direktorat Inovasi UI dan Science Techno Park UI.

    "Saat ini tengah disiapkan enam unit prototipe kedua alat tersebut yang akan diuji coba di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)," kata Haris menambahkan. 

    Menurut dia, pengembangan prototipe instrumen oleh Tim Peneliti UI ini merujuk kepada hasil penelitian tentang efektivitas gelombang UV C. Spektrum gelombang itu disebutkannya mampu membunuh spora, bakteri, beragam tipe jamur, cendawan, protozoa, dan beberapa tipe virus lainnya.
     
    Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa sinar ultraviolet C dengan panjang gelombang 254 nm dapat membunuh bacillus anthracis (bakteri anthrax), e-coli (penyebab infeksi saluran pencernaan), dan difteri. "Sinar UV C juga dapat membunuh virus seperti adenovirus (penyebab demam, radang tenggorokan, bronchitis dan pneumonia), virus hepatitis A, dan polio," ucap Haris.
     
    Ia menjelaskan  uji coba prototipe instrumen ini akan digunakan untuk keperluan disinfektan alat-alat medis dan ruangan yang dipergunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan, terutama bagi pasien COVID-19. Kedua prototipe dirancang untuk dapat dimanfaatkan secara aman oleh institusi kesehatan dan fasilitas umum lainnya. "Pemakaian alat ini harus bersamaan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan kaca mata pelindung."
     
    Di tengah pandemi COVID-19, instrumen ini diharapkan dapat membantu tenaga medis dan petugas kesehatan dalam aktivitas pemberantasan wabah penyakit itu. “Diharapkan, prototipe yang telah dihasilkan tim peneliti UI ini dapat meningkatkan jumlah produk kesehatan yang dapat diproduksi di dalam negeri,” ujar Haris.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.