COVID-19, Ini Rekomendasi Dekan FKUI untuk Penggunaan Chloroquine

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menunjukkan kotak berisi obat malaria, Chloroquine, yang akan diserahkan kepada RSPI Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu 21 Maret 2020. Obat ini digunakan sebagai satu di antara terapi eksperimental yang digunakan untuk pasien COVID-19 di dunia sambil menunggu riset obat dan vaksin untuk penyakit karena virus corona 2019 itu. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.

TEMPO.CO, Jakarta - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menyarankan konsumsi obat malaria, Chloroquine, untuk kasus COVID-19 hanya dilakukan dalam uji klinis dari WHO. Indonesia termasuk di antara kumpulan besar negara-negara di dunia yang terlibat dalam uji bernama Solidarity Trial itu.

Ari menanggapi perkembangan di sejumlah negara yang mendapati efek samping serius dari pengobatan COVID-19 menggunakan Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Bahkan di Brasil, uji klinis denan dua macam obat itu telah dihentikan sebelum waktunya setelah beberap pasien meninggal karena komplikasi jantung.

Itu sebabnya, Ari merekomendasikan penggunaan obat malaria, juga lupus dan rheumatoid arthritis itu, di Indonesia dibatasi dan diawasi. Sekalipun sudah banyak digunakan sejak COVID-19 mewabah di Cina, menurutnya, terapi untuk pasien akan lebih baik dilakukan dalam bentuk design research.

"(Rekomendasi saya) ya masuk multi-centre research solidarity dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di bawah koordinasi Litbangkes,” ujar dia melalui pesan pendek, Senin 27 April 2020.

Ari yang juga dokter spesialis penyakit dalam itu telah sejak awal memperingatkan bahwa obat malaria Chloroquine phosphate tergolong obat keras. Dia berharap masyarakat tidak panik karena wabah virus corona COVID-19 sehingga memicu pembelian bebas obat itu dari apotek-apotek. 

"Jika salah menyimpannya bisa menjadi racun, dan jika penggunaannya salah bisa merusak ginjal dan liver,” kata Ari saat dihubungi, 20 Maret 2020.

Sebelumnya, penelitian sekaligus uji klinis di Brasil tentang kemampuan obat anti malaria Chloroquine untuk memerangi virus corona COVID-19 dihentikan sebelum waktunya. Keputusan itu diambil setelah beberapa pasien mengalami komplikasi jantung yang berpotensi fatal.

Dalam uji klinis itu, peneliti memberikan chloroquine kepada 81 pasien COVID-19 untuk menentukan efektivitasnya melawan virus yang menginfeksi mereka. Temuan awal menunjukkan bahwa dosis (chloroquine) tinggi tidak direkomendasikan untuk pengobatan COVID-19. 

Sekitar setengah dari pasien dalam penelitian itu diberi chloroquine dosis 50 mg  sebanyak dua kali sehari selama lima hari. Peserta lain diberi dosis tunggal 600 miligram setiap hari selama 10 hari.

Namun, dalam tiga hari, beberapa pasien yang menggunakan dosis tinggi mengalami aritmia, atau detak jantung tidak teratur. Pada hari keenam, 11 pasien meninggal, meskipun tidak jelas apakah itu akibat virus corona atau komplikasi yang terkait dengan chloroquine.

Belakangan peringatan akan efek samping chloroquine dikeluarkan di Amerika Serikat meski presidennya sebelumnya telah mempromosikan penggunaannya. Badan Pengawas Obat Uni Eropa (EMA) bahkan melarang rumah sakit menggunakan chloroquine dan hydroxychloroquine untuk mengobati pasien COVID-19.

EMA menganjurkan obat tersebut sebaiknya digunakan hanya untuk kondisi darurat. Itupun disertai pengawasan ketat kondisi pasien. Badan pengawas itu juga mengingatkan tenaga kesehatan agar terus memantau keadaan pasien yang mengonsumsi obat itu bersamaan dengan obat lain.

Terbaru, Pemerintah Kanada menerbitkan anjuran kepada publiknya agar tidak menggunakan chloroquine secara bebas karena kekhawatiran akan efek samping yang sama. Anjuran diterbitkan kementerian kesehatan di negara itu 25 April lalu.






WHO: 23 Juta Warga Terdampak Gempa Turki-Suriah

1 jam lalu

WHO: 23 Juta Warga Terdampak Gempa Turki-Suriah

WHO memperingatkan bahwa hingga 23 juta orang terdampak gempa Turki-Suriah.


Top 3 Dunia: Mulai dari Penyebab Gempa Bumi Turki dan Suriah hingga Potensi Jumlah Korban Menurut WHO

4 jam lalu

Top 3 Dunia: Mulai dari Penyebab Gempa Bumi Turki dan Suriah hingga Potensi Jumlah Korban Menurut WHO

Top 3 Dunia dikuasai oleh berita-berita tentang gempa bumi di Turki dan Suriah.


Menguak Penyebab Gempa Turki yang Masif Merusak

13 jam lalu

Menguak Penyebab Gempa Turki yang Masif Merusak

Elders mengungkapkan gempa Turki amat dahsyat dan menghancurkan karena kedalamannya hanya 18 km dari permukaan bumi atau termasuk dangkal.


WHO: Suriah Krisis, Butuh Bantuan dalam Jumlah Sangat Besar

14 jam lalu

WHO: Suriah Krisis, Butuh Bantuan dalam Jumlah Sangat Besar

Dirjen WHO mengatakan sekarang adalah perlombaan melawan waktu untuk menemukan orang-orang yang selamat.


5 Fakta Gempa Turki dan Suriah: Perkiraan Korban Tewas hingga Episentrum Gempa

16 jam lalu

5 Fakta Gempa Turki dan Suriah: Perkiraan Korban Tewas hingga Episentrum Gempa

WHO memperkirakan jumlah korban gempa Turki bisa naik 8 kali lipat dari penghitungan sementara.


MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

18 jam lalu

MRT Jakarta Catat Jumlah Penumpang Capai 61,2 Juta Selama 2019-2022

Dirut MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan jumlah pengguna atau ridership pada 24 Maret 2019 - 31 Desember 2022 sebanyak 61.292.496 orang. Rinciannya, pada 2019 dengan target 65.000 penumpang, realisasinya 86.270 penumpang. Pada 2020 dengan target 26.065 penumpang, realisasinya 27.122 penumpang.


Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

20 jam lalu

Walikota New York Cabut Aturan Wajib Vaksin Covid-19

Kota New York tak lagi mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksin Covid-19.


WHO Perkirakan Korban Gempa Turki Bisa Tembus 20.000 Orang

22 jam lalu

WHO Perkirakan Korban Gempa Turki Bisa Tembus 20.000 Orang

Korban gempa Turki diperkirakan terus bertambah hingga 8 kali lipat menurut perhitungan WHO.


Gempa Turki-Suriah Tewaskan 1.900 Jiwa, WHO: Korban Jiwa Akan Melonjak

1 hari lalu

Gempa Turki-Suriah Tewaskan 1.900 Jiwa, WHO: Korban Jiwa Akan Melonjak

Rick Brennan, direktur darurat regional WHO untuk Mediterania Timur, memprediksi korban tewas gempa Turki-Suriah akan melonjak


BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

1 hari lalu

BPS Sebut Kunjungan Wisatawan Asing Melonjak 384 Persen Sepanjang 2022

BPS menyebut jumlah kunjungan wisawatan asing melonjak sebesar 384,12 persen secara yoy dan secara kumulatif meningkat 251,28 persen.