Khasiat Antivirus Jamur Cordyceps akan Diuji di Wisma Atlet

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim dokter memeriksa awal pasien terkait wabah corona atau COVID-19 di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Jakarta, Sabtu 28 Maret 2020. (ANTARA/HO/Tim Kesehatan Kogasgabdap Wisma Atlet)

    Tim dokter memeriksa awal pasien terkait wabah corona atau COVID-19 di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Jakarta, Sabtu 28 Maret 2020. (ANTARA/HO/Tim Kesehatan Kogasgabdap Wisma Atlet)

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu lagi tanaman herbal Indonesia diperkenalkan sebagai kandidat antivirus corona, yakni jamur Cordyceps. Protokol sedang disiapkan untuk memberikannya kepada pasien Covid-19 di Wisma Atlet sebagai sebuah uji klinis.

    Jamur Cordyceps disebut memiliki khasiat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dia bahkan diklaim memiliki struktur yang bisa menghambat replikasi virus. Senyawa aktif yang dimiliki membuatnya sudah lama dikonsumsi masyarakat khususnya di Tibet, Cina, Korea.

    "Strukturnya memiliki kesamaan dengan senyawa antivirus," kata Guru Besar Fakultas MIPA dan Pakar Biomolekuler Universitas Brawijaya, Widodo dalam diskusi online tentang kekuatan bahan alami untuk memperkuat imunitas tubuh, Rabu 13 Mei 2020.

    Widodo menambahkan, kesamaan struktur ini yang bisa berpotensi menghambat replikasi virus secara langsung. Pada kasus Covid-19 diharap bisa  meredakan badai sitokin di paru-paru. Selain itu membantu meningkatkan kemampuan pernapasan. 

    Hanya saja belum ada uji klinis mengenai efektivitas antivirus jamur ini, walau secara tradisional sudah lama digunakan masyarakat. Untuk itu tim dokter dan peneliti di Indonesia saat ini bersiap melakukan uji klinis pada pasien Covid-19 di Wisma Atlet, Jakarta.

    "Kami sudah menyiapkan protokolnya untuk pasien, tinggal tunggu beberapa minggu," kata Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Traditional dan Jamu Indonesia, Inggrid Tania. Dia menambahkan, "Kami berharap hasilnya bagus, bisa memberikan kontribusi untuk penanganan COVID-19 di Indonesia." 

    Penjaga stan menata jamu tradisional pada pameran industri kosmetik dan jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 1 September 2015. Kinerja industri obat tradisional dan jamu sepanjang semester pertama stagnan dibandingkan semester lalu yang nilainya berkisar Rp 3 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Selain jamur Cordyseps,menurut Inggrid, penelitian mengenai tanaman herbal atau jamu Indonesia untuk pasien Covid-19 secara umum tinggal menunggu perizinan uji klinis. Di antaranya adalah empon-empon yang disebutnya bisa membantu ketika terjadi badai sitokin pada peradangan paru-paru berat.

    Sebelumnya, tim di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian juga mengumumkan potensi dari minyak Eucalyptus sebagai antivirus yang sama. Ujinya disebut sudah pada sel manusia di laboratorium.

    Studi senyawa antivirus pada berbagai senyawa aktif bahan alami juga dilakukan tim peneliti Universitas Indonesia dan IPB University. Hasilnya memunculkan buah jambu biji merah, daun kelor, dan kulit jeruk sebagai pemilik senyawa terbanyak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.