Cara LAPAN Tentukan Arah Kiblat Saat Matahari di Atas Ka'bah

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemasangan tonggak dalam percobaan menentukan arah kiblat di atas gedung Temprint, Jakarta, 28 Mei 2015. Dari bayangan tonggak yang terpasang tegak lurus itulah arah kiblat yang tepat. TEMPO/Charisma Adristy

    Pemasangan tonggak dalam percobaan menentukan arah kiblat di atas gedung Temprint, Jakarta, 28 Mei 2015. Dari bayangan tonggak yang terpasang tegak lurus itulah arah kiblat yang tepat. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat sore ini Rabu, 15 Juli 2020, pukul 09.27 waktu Saudi Arabia atau 16.27 WIB posisi Matahari berada tepat di atas Ka’bah. Fenomena itu merupakan patokan arah kiblat bagi umat muslim dalam menjalankan salat.

    Peneliti dari Pusat Sains Antariksa LAPAN Andi Pangerang dalam laman Eduksi Sains LAPAN menjelaskan bagaimana cara menentukan arah kiblat ketika Matahari tepat di atas Ka’bah atau yang biasa disebut Kulminasi Agung Ka’bah.

    "Pertama, tentukan tempat yang akan diketahui arah kiblatnya, cari lokasi yang rata dan tentunya terkena cahaya Matahari. Lalu, sediakan tongkat lurus atau jika tidak ada, bisa menggunakan benang berbandul,” ujar Andi, Selasa, 14 Juli 2020.

    Kemudian, untuk mencocokkan waktu yang tepat, sebaiknya siapkan jam yang sudah dikalibrasikan, bisa merujuk pada http://jam.bmkg.go.id atau http://time.is. Setelah itu, tancapkan tongkat di atas permukaan tanah dan pastikan tongkat benar-benar tegak lurus (90 derajat dari permukaan tanah), atau gantungkan benang berbandul tadi.

    “Tunggulah hingga waktu Kulminasi Agung tiba, kemudian amati bayangan tongkat atau benang pada waktu tersebut. Tandai ujung bayangan, lalu tariklah garis lurus dengan pusat bayangan tongkat/ bandul,” tulis Andi.

    Menurut Andi, garis lurus yang menghadap dari ujung ke pusat bayangan merupakan arah kiblat untuk lokasi tempat di mana arah patokan dicari.

    Namun, ada beberapa wilayah di Indonesia yang tidak dapat memanfaatkan fenomena ini untuk menentukan arah kiblat, di antaranya sebagian Provinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar), Kabupaten Maluku Tenggara (kini Kabupaten Kepulauan Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar), dan Kabupaten Kepualauan Aru, di tambah dengan Provinsi Papua Barat dan Papua.

    Kesembilan wilayah itu, Andi berujar, dapat meluruskan arah kiblat ketika Matahari berada di titik balik atau Nadir Ka'bah (disebut juga sebagai Antipoda Ka'bah) yakni pada 29 November pukul 00.09 waktu Saudi atau 06.09 WIT, serta 14 Januari pukul 00.30 waktu Saudi atau 06.30 WIT.

    Secara umum, langkah dalam menentukan arah kiblat dengan Antipoda Ka'bah sama dengan menggunakan Kulminasi Agung. Tapi ada perbedaannya, yaitu penentuan arah kiblat pada bayangan. “Jika Kulminasi Agung arah kiblat adalah dari ujung ke pusat bayangan, sebaliknya jika Matahari berada di Antipoda Ka'bah arah kiblat adalah dari pusat ke ujung bayangan,” tutur Andi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.