Asap Rokok Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Kata American Lung Association

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi orang merokok, Jakarta, Rabu, 15 Pebruari 2006. [TEMPO/ Fransiskus S.; Digital Image; 20060215]

    Ilustrasi orang merokok, Jakarta, Rabu, 15 Pebruari 2006. [TEMPO/ Fransiskus S.; Digital Image; 20060215]

    TEMPO.CO, Jakarta - Para perokok dapat mengembuskan droplet berisi virus corona penyebab Covid-19 bersama asap yang baru mereka nikmati di saluran pernapasannya alias asap rokok bekas pakai. Ini seperti yang disebut Albert Rizzo, kepala staf medis untuk American Lung Association kepada AP.

    "Mereka tidak hanya berbahaya karena tidak mengenakan masker, tapi mereka juga meniupkan banyak droplet kepada orang-orang di sekitarnya sehingga berpotensi terinfeksi virus itu," katanya.

    Virus corona Covid-19 telah dipahami banyak menyebar dari satu orang ke orang yang lain melalui droplet atau butiran liur dari saluran pernapasan. Belakangan bahkan diyakini pula kalau virus dari sumber yang sama bisa menyebar di udara menumpang aerosol yang lebih kecil dan ringan.

    Sedang asap rokok telah pula terbukti bisa berdampak ke orang lain. Sehingga ada istilah perokok pasif untuk mereka yang tidak merokok namun mengalami efek kesehatan yang sama dengan si perokok.

    Asap rokok dengan ratusan unsur kimia beracunnya--70 di antaranya karsinogenik--bisa merusak paru-paru, memicu asma dan menyebabkan penyakit jantung ataupun stroke. Semuanya, menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), bisa berkomplikasi dengan infeksi virus corona.

    Bahkan jika asap rokok itu tak terhirup perokok pasif bisa tetap berbahaya. Ini, kata organisasi kesehatan Salud America, karena asap itu bisa bergelayut pada debu, menetap pada pakaian, dinding dan perabotan dan menjadi tempat berlabuh virus-virus.

    "Debu mungkin untuk mengandung partikel aerosol atau asap yang berukuran lebih besar daripada virus corona," bunyi temuan tim peneliti Ilmu dan Teknologi Lingkungan pada musim semi lalu. “Itu sebabnya, mereka mungkin menampung Covid-19." 

    Meskipun belum ada studi peer-reviewed (dikaji antar ilmuwan) yang mengevaluasi risiko infeksi virus corona penyebab Covid-19 terkait kebiasaan merokok, tapi perokok tembakau mungkin lebih rentan tertular Covid-19. Penyebabnya, kontak jemari dengan bibir, yang menambah peluang penularan virus dari tangan ke mulut.

    Sementara, informasi yang ada saat ini dianggap belum cukup mengkonfirmasi hubungan antara tembakau atau nikotin dalam pencegahan atau pengobatan Covid-19. WHO mendesak para peneliti, ilmuwan, dan media untuk berhati-hati terhadap klaim-klaim yang belum terbukti. 

    FOX NEWS | ASSOCIATED PRESS | WHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Tetapkan Aturan Baru Perihal Kampanye Pilkada Serentak 2020

    Pilkada Serentak 2020 tetap dilaksanakan pada 9 September pada tahun yang sama. Untuk menghadapi Covid-19, KPU tetapkan aturan terkait kampanye.