Mengintip Senjata Mematikan Azerbaijan dan Armenia: Drone Turki vs Rudal Rusia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Drone Bayraktar Turki (kiri) dan Rudal Balistik Iskander-M Rusia. Kredit: Defense World/Tass

    Drone Bayraktar Turki (kiri) dan Rudal Balistik Iskander-M Rusia. Kredit: Defense World/Tass

    TEMPO.CO, Jakarta - Konflik antara Azerbaijan dan Armenia kian memanas. Sejak Minggu, 27 September 2020, kedua negara saling serang menggunakan beragam artileri beratnya masing-masing di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.

    Pimpinan Nagorno-Karabakh mengatakan Azerbaijan telah menggunakan artileri berat ke daerah-daerah peperangan. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan pasukan Armenia telah menembaki Kota Terter.

    Penggunaan artileri berat oleh kedua negara tak pelak membuat puluhan tentara tewas. Pada bentrokan hari pertama saja sudah menewaskan 16 tentara Nagorno-Karabagh dan melukai ratusan lainnya. Sedangkan pada bentrokan hari kedua, ada 15 tentara yang tewas.

    Selain itu, beberapa kendaraan taktis dan persenjataan kedua negara juga tidak luput dari serangan. The Verge melaporkan, akibat serangan drone dan artileri Azerbaijan, setidaknya telah menghancurkan beberapa tank T-72, kendaraan tempur infanteri BMP-1 dan BMP-2, serta artileri milik pasukan Armenia dan Republik Artsakh.

    Sementara itu, pihak Azerbaijan juga terpaksa kehilangan sejumlah tank T-72, kendaraan tempur BMP-1 dan BMP-2, kendaraan pengangkut lapis baja BTR-82 dan beberapa pesawat nirawak akibat serangan sistem pertahanan Armenia termasuk peluru kendali antitank.

    Kedua negara diketahui memiliki beragam persenjataan yang mumpuni untuk menunjang pertempurannya masing-masing.

    Azerbaijan sendiri memiliki beragam drone canggih dan mematikan termasuk drone TB-2 Bayraktar buatan Turki dan drone bunuh diri IAI HAROP buatan Israel yang mana keduanya sama-sama pernah digunakan dalam pertempuran sebelum ini.

    Drone Bayraktar sendiri diyakini terlibat dalam serangan 27 September yang menghancurkan beberapa fasilitas pertahanan udara Armenia.

    Bayraktar merupakan pesawat nirawak kombatan berjenis medium altitude long endurance (MALE) yang diproduksi oleh Baykar Makina. Drone ini memiliki daya jelajah lebih dari 150 km dengan kecepatan maksimal 70 knot dan mampu bertahan selama 20 jam.

    Sebagai drone Kombatan, Bayraktar mampu membawa beragam amunisi untuk serangan ke permukaan. Adapun amunisi yang dapat dibawa drone ini antara lain MAM, MAM-L, dan rudal UMTAS. Drone ini telah membuktikan kehandalannya dalam beberapa pertempuran seperti saat menghancurkan sistem perlindungan udara Pantsir S-1 Rusia di Libya dan Suriah.

    Azerbaijan juga memiliki drone IAI HAROP yang dijuluki sebagai drone bunuh diri. Sesuai dengan namanya, drone ini tidak membawa amunisi apapun karena drone itu sendiri amunisinya.

    Drone ini sangat lincah dalam bermanuver, sulit dideteksi radar, dan sangat mematikan. Bahan peledak pada drone ini mencapai 22 kilogram. Dalam serangannya, HAROP akan terbang tinggi mendekati target, setelah target terlihat, drone akan menukik dengan kecepatan penuh dan menabrakkan dirinya ke target sasaran. 

    Selain drone, kekuatan udara Azerbaijan juga didukung armada jet tempur Su-25, dan MiG-29 Fulcrum yang keduanya merupakan jet buatan Rusia. Sedangkan untuk rudal kendali, Azerbaijan memiliki rudal balistik jarak pendek buatan Israel bernama LORA.

    Sementara itu, di kubu Armenia, rudal balistik Iskander-M buatan Rusia nampaknya bakal menjadi ancaman serius bagi Azerbaijan dan Turki. Rudal Iskander-M disebut telah membuat NATO khawatir.

    Rudal balistik jarak pendek tersebut memiliki kemampuan nuklir dan mampu melayang sampai ketinggian 49.600 meter dengan jangkauan sekitar 482 km. Ketika hulu ledak terlepas dari rudal, hulu ledak akan meluncur ke target sasaran dengan kecepatan hipersonik.

    Iskander-M dirancang untuk menyerang situs darat yang memiliki nilai penting seperti bunker, fasilitas telekomunikasi, industri minyak, dan situs keras lainnya. Rudal ini bisa membawa hulu ledak high explosive seberat 635 kg, fuel-air explosive, ataupun hulu ledak penembus high explosive. 

    Selain itu, Armenia juga memiliki armada jet tempur Su-25 feogfoot dan Su-30SM buatan Rusia. Su-30SM sendiri mampu membawa muatan senjata canggih hingga 8 ton untuk menghadapi ancaman udara maupun target permukaan darat dan laut.

    Pada bagian mesin, Su-35SM dilengkapi dengan dua mesin reheated turbojet by-pass AL-31FP yang memberinya jangkauan terbang maksimum sampai 3.000 km dengan daya tahan penerbangan 3,5 jam. 

    Selain itu, militer Armenia juga memiliki sejumlah rudal balistik jarak pendek Scud dan Tochka yang diwarisi dari Uni Soviet.

    Di atas kertas, kekuatan militer Azerbaijan terbilang lebih unggul ketimbang Armenia. Hal ini didukung oleh data Global Fire Power yang menempatkan militer Azerbaijan pada urutan 64 dari 138 negara, sedangkan Armenia berada di urutan 111.

    ARMY TECHNOLOGY | POPULAR MECHANICS | THE DRIVE |  MUHAMMAD AMINULLAH | EZ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.