Covid-19, WHO: Perlu Sistem Berbagi Bahan Patogen dan Sampel Klinis

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Christopher Black/WHO/Handout via REUTERS

    Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Christopher Black/WHO/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jenewa - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat, 13 November 2020, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan sebuah sistem yang disepakati secara global untuk berbagi bahan patogen dan sampel klinis, guna memfasilitasi pengembangan pesat langkah penanggulangan medis sebagai barang publik global.

    "Itu tidak bisa didasarkan pada perjanjian bilateral, dan tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk bernegosiasi," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pidato penutupnya di Majelis Kesehatan Dunia ke-73, badan pembuat keputusan WHO.

    WHO mengusulkan sebuah pendekatan baru yang akan mencakup tempat penyimpanan untuk bahan-bahan yang disimpan WHO di sebuah fasilitas aman di Swiss. Ini merupakan kesepakatan bahwa membagikan bahan ke tempat tersebut bersifat sukarela dan WHO dapat memfasilitasi pemindahan dan penggunaan bahan tersebut, serta serangkaian kriteria yang mengatur pendistribusiannya oleh WHO, katanya.

    Tedros mengatakan bahwa menteri kesehatan Thailand dan Italia, serta pejabat federal Swiss, telah menunjukkan dukungan mereka terhadap proposal tersebut. Negara-negara lain juga telah menyatakan minatnya dan semoga akan melanjutkannya ke tahap diskusi.

    Tedros juga mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah menunjukkan konsekuensi dari sangat kurangnya investasi dalam kesehatan masyarakat.

    "Krisis kesehatan ini telah memicu krisis sosial ekonomi yang berdampak pada miliaran jiwa dan mata pencaharian serta merusak stabilitas dan solidaritas global. Kembali ke status quo bukanlah suatu pilihan," ujarnya.

    "Sudah tiba saatnya untuk narasi baru yang melihat kesehatan bukan sebagai biaya, tetapi sebagai investasi yang merupakan fondasi perekonomian yang produktif, tangguh, dan stabil," katanya.

    Kepala WHO tersebut mengumumkan untuk membentuk sebuah dewan baru, Dewan Ekonomi Kesehatan untuk Semua, yang difokuskan pada hubungan antara kesehatan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan didorong oleh inovasi.

    Dewan tersebut akan terdiri dari para ekonom terkemuka dan ahli kesehatan. Dewan diharapkan akan mengadakan sesi virtual pertama dalam beberapa pekan mendatang untuk membahas rencana kerja dan mode operasinya, tambah Tedros.

    ANTARA | XINHUA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.