Menilai Kebijakan Baru WhatsApp Arogan, Pakar Ini Senada Sikap Elon Musk

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan baru WhatsApp dengan mencantumkan tag From Facebook. (thesun.co.uk)

    Tampilan baru WhatsApp dengan mencantumkan tag From Facebook. (thesun.co.uk)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian pengguna aplikasi WhatsApp telah menerima notifikasi berjudul 'WhatsApp sedang memperbarui ketentuan dan kebijakan privasi'. Di sana disebutkan bahwa jika pengguna mengetuk SETUJU, artinya mereka menerima kebijakan baru WhatsApp itu berlaku per 8 Februari mendatang.

    Namun, jika tidak setuju dengan update tersebut, pengguna tidak akan bisa menikmati layanan chat atau panggilan telepon dan video dari aplikasi itu per tanggal yang sama. Sekalipun tetap bisa membuka atau mengakses WhatsApp, misalnya cek chat history (apabila ada back up device juga). 

    Notifikasi tersebut menjelaskan ada dua inti dari pembaruan itu. Pertama, cara bisnis menggunakan layanan yang di-hosting oleh Facebook--induk perusahaan WhatsApp--untuk menyimpan dan mengelola chat WhatsApp mereka. Kedua, cara WhatsApp bermitra dengan Facebook untuk menawarkan integrasi di seluruh produk perusahaan Facebook.

    Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai instruksi pembaruan dari WhatsApp dan opsi yang diberikan itu buntut dari aplikasi yang terlalu mendominasi. “Sehingga dengan posisinya yang dominan ini mereka berani mulai menekan penggunanya,” ujar dia melalui pesan WhastApp, Jumat malam, 8 Januari 2021.

    Alfons yang juga mantan bankir itu berpendapat Facebook Group seharusnya memberikan pilihan, jika pengguna WhatsApp tidak mau share datanya ke Facebook diperbolehkan untuk memilih fitur berbayar. Sedangkan jika ingin tetap gratis, maka datanya boleh dibagikan ke Facebook.

    Namun, Alfons menilai, perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu justru dengan arogan tidak memberikan pilihan tersebut. Sebaliknya, kata Alfons, memaksa penggunanya untuk menerima bahwa jika ingin menggunakan WhatsApp harus bersedia dikorbankan sebagai 'produk'.

    “Pengguna WhatsApp perlu memikirkan hal ini juga dan menurut saya perlu mencari alternatif messenger selain Whatsapp. Bisa Telegram, bisa Line dan lain sebagainya,” kata Alfons.

    Baca juga:
    Kebijakan Baru WhatsApp, Ini yang Terjadi Jika Pengguna Menolaknya

    Pria lulusan Universitas Trisakti dan Universitas Indonesia itu juga mempertanyakan kerahasiaan data pengguna yang menurut WhatsApp diproteksi dengan sitem enkripsi end-to-end. Dia khawatir chat tidak lagi hanya diketahui sesama pengguna saja. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.