Jawa Barat Kesulitan Atasi Limbah Medis Covid-19 1,7 Ton Sehari

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas otoritas kepabeanan memeriksa truk pengangkut limbah sarung tangan medis bekas pakai yang diselundupkan dari Malaysia, di Kantor Bea dan Cukai Dumai di Riau, Jumat, 22 Januari 2021. ANTARA/Aswaddy Hamid

    Petugas otoritas kepabeanan memeriksa truk pengangkut limbah sarung tangan medis bekas pakai yang diselundupkan dari Malaysia, di Kantor Bea dan Cukai Dumai di Riau, Jumat, 22 Januari 2021. ANTARA/Aswaddy Hamid

    TEMPO.CO, Jakarta - Limbah alat medis meningkat selama pandemi Covid-19, khususnya masker yang banyak digunakan masyarakat. Pemerintah daerah, seperti di wilayah Jawa Barat, mengalami banyak kendala untuk mengatasi sampah masker itu.

    Baca:
    IDI Ingatkan Hubungan Merokok dengan Covid-19 Gejala Berat 

    “Timbunan limbah medis Covid-19 sebanyak 1,7 ton per hari,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Prima Mayaningtyas.

    Limbah sebanyak itu berasal dari 261 rumah sakit atau 68 persen dari total 383 rumah sakit di Jawa Barat. Limbah medis Covid-19 itu berupa alat perlindungan diri seperti pakaian hazmat, masker, sarung tangan, serta limbah domestik yang kontak dengan pasien positif Covid-19 misalnya sisa makanan dan wadahnya, serta tisu bekas.

    Pengelolaan limbah rumah sakit kebanyakan diserahkan ke pihak ketiga. Namun pengelolanya, kata Prima, kesulitan mengurus perizinan untuk mengangkut dan mengolah limbah medis Covid-19. “Sementara pandeminya cepat dan lokasi pengolahannya juga jauh,” katanya dalam webinar Peringatan Hari Sampah Nasional pada 16 Februari 2021.

    Meskipun kapasitas tujuh perusahaan pengelola insinerator sanggup mengolah 155,04 ton per hari, namun alatnya digunakan juga untuk mengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) umum, tidak khusus untuk limbah B3 medis. “Beberapa daerah seperti Bogor, Cirebon, limbah medis dibuang sembarangan,” ujar Prima.

    Sementara itu di kalangan rumah tangga, kendalanya mulai dari masyarakat yang kekurangan edukasi soal limbah medis Covid-19, pemilahan sampahnya, hingga belum ada tata kelola penanganan. Beberapa daerah seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, dan Kabupaten Sukabumi, punya persoalan yang mirip. “Kendala rata-rata yaitu terbatasnya dana, jasa pengangkut, sumber daya manusia, sulit mendapat izin dan mencari depo limbah B3 medis,” kata Prima.

    Beberapa Kabupaten, seperti Bandung, Sukabumi, dan Bandung Barat, misalnya telah melakukan upaya mengurangi limbah medis terutama masker melalui disinfeksi limbah dengan cara merendam masker sekali pakai dalam air sabun atau larutan desinfektan. Kemudian membuat Surat Edaran penanganan limbah medis di masyarakat serta menyediakan alat angkutnya, serta mengumpulkan limbah medis rumah tangga di Puskesmas.

    Menurut Ratih Asmana Ningrum dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), SARS CoV-2 penyebab Covid-19 punya selubung yang membuat virusnya kurang stabil. “Kalau terkena disinfektan atau sabun, selubungnya akan jadi rusak dan menyebabkan virusnya pecah dan menjadi tidak aktif,” katanya di acara yang sama. Inaktivasi virusnya dapat dilakukan dengan pemanasan hingga suhu 70 derajat Celcius dan larutan disinfektan selama lima menit.

    Pengguna bisa mengolah limbah sendiri dengan mengumpulkan masker sekali pakai lalu merendamnya dengan larutan disinfektan, selanjutnya menggunting limbah masker, membungkus rapat sebelum dibuang ke tempat sampah. Setelah itu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.