Hujan Es Kagetkan Warga Kota Yogyakarta, Pengendara Menepi

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampakan hujan es di Sleman, Selasa, 2 Maret 2021. Dok BPBD Sleman

    Penampakan hujan es di Sleman, Selasa, 2 Maret 2021. Dok BPBD Sleman

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Hujan es melanda wilayah perkotaan Yogyakarta, Rabu siang, 3 Maret 2021, sekitar pukul 13.40 WIB. Sehari sebelumnya, hujan es sempat menerjang kawasan Kabupaten Sleman.

    Baca:
    Hujan Es Sebesar Kelereng Melanda Sleman 

    Hujan es di wilayah Kota Yogyakarta kali ini pun turut disertai hujan lebat dan angin kencang dan mengagetkan warga di sekitar kawasan Tugu Yogya, Pakualaman, hingga Malioboro.

    Warga khususnya pengendara motor yang tak menyangka fenomena itu buru-buru menepikan kendaraannya. Hujan es sebesar kerikil-kerikil itu membuat warga pengendara di jalan cukup kaget.

    “Saya kira cuma hujan biasa dan angin, ternyata ada butiran-butiran esnya sebesar kerikil,” ujar Arifin, 41, warga asal Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

    Ayah satu anak itu terpaksa menepi dan menunda sementara perjalanannya menuju Klaten, Jawa Tengah, karena ia khawatir jika di tengah jalan hujan lebat disertai es itu ternyata durasinya lama.

    Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas membenarkan telah terpantau telah terjadi hujan es di sejumlah wilayah Kota Yogyakarta dan juga Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, pada Rabu.

    Reni pun menjelaskan fenomena hujan es itu terjadi karena saat udara hangat, lembab dan labil terjadi di permukaan bumi maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas/atmosfer dan mengalami pendinginan.

    “Setelah terjadi kondensasi akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan cumulonimbus (Cb). Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level,” kata dia.

    Freezing level ini, kata Reni, menyebabkan terbentuknya kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.

    “Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air,  terjadi hujan lebat disertai es.  Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil,” katanya.

    Reni mengingatkan hujan es saat masih berpotensi tinggi terjadi pada musim hujan dan juga pada saat pancaroba. Hujan es ini sifatnya sangat lokal (radius 2 km) yang disebabkan oleh pertumbuhan awan cumulonimbus lebih dari 10 km.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.