Dokter di Cina: Varian Covid-19 Delta Bikin Pasien Lebih Sakit

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kata

    Kata "COVID-19" tercermin dalam setetes jarum suntik dalam ilustrasi yang diambil pada 9 November 2020. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Virus corona Covid-19 varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, sudah tersebar di Cina. Para dokter menerangkan pihaknya menemukan gejala berbeda dan lebih berbahaya daripada versi awal virus yang mulai menyebar pada akhir 2019 di pusat kota Wuhan, Provinsi Hubei. 

    “Pasien menjadi lebih sakit dan kondisi mereka memburuk jauh lebih cepat,” kata dokter kepada televisi pemerintah pada Jumat, 11 Juni 2021.

    Para dokter juga menyebutkan bahwa empat per lima dari kasus bergejala mengalami demam, meskipun tidak jelas bagaimana dibandingkan dengan kasus sebelumnya. Konsentrasi virus yang terdeteksi di tubuh pasien naik ke tingkat yang lebih tinggi dari yang terlihat sebelumnya, dan kemudian menurun secara perlahan.

    Direktur pengobatan perawatan kritis di Sun Yat-sen University, Guan Xiangdong, di  Kota Guangzhou, tempat wabah itu berpusat, menjelaskan hingga 12 persen pasien menjadi sakit parah atau kritis dalam tiga hingga empat hari sejak timbulnya gejala. “Kalau dulu proporsinya hanya 2 atau 3 persen, meski kadang sampai 10 persen,” ujar dia, seperti dikutip New York Times, Minggu, 13 Juni 2021.

    ADVERTISEMENT

    Selain Cina, dokter di Inggris dan Brasil juga telah melaporkan tren serupa dengan varian yang beredar di negara-negara tersebut, tetapi tingkat keparahan varian tersebut belum dikonfirmasi. 

    Kesaksian dari Cina ini adalah indikasi terbaru tentang bahaya yang ditimbulkan oleh Delta, yang bulan lalu oleh Organisasi Kesehatan Dunia disebut sebagai “variant of concern.” Varian itu telah disalahkan atas penderitaan dan kematian yang meluas, bahkan Delta menjadi varian dominan di Inggris, di mana dokter menyebutkan bahwa itu lebih menular dan dapat menginfeksi beberapa orang yang hanya menerima satu dari dua dosis vaksin Covid-19. 

    Sementara Shenzhen memiliki beberapa kasus minggu lalu dari varian Alpha, yang pertama kali muncul di Inggris. 

    Cina memiliki data terperinci yang unik, karena pada dasarnya memiliki pengujian universal di sekitar wabah, yang memungkinkan para pejabat untuk mengumpulkan informasi terperinci tentang tingkat kasus. Penyebaran varian Delta di Cina tenggara lebih memusatkan perhatian pada efektivitas vaksin buatan Cina.

    Pihak berwenang Negeri Tirai Bambu itu belum menunjukkan berapa banyak infeksi baru yang terjadi pada orang yang telah divaksinasi. Di beberapa negara lain di mana vaksin buatan Cina digunakan secara luas, termasuk Seychelles dan Mongolia, infeksi di antara orang yang divaksinasi meningkat, meskipun beberapa pasien dilaporkan mengembangkan penyakit serius. 

    Saat beberapa bagian lain dunia masih berjuang untuk memperoleh dan mengelola sejumlah besar tes virus corona, Cina tenggara telah menggunakan produksi lokal bahan kimia langka untuk melakukan pengujian dalam skala yang luar biasa. “Kami telah melakukan 32 juta tes,” kata pejabat setempat,

    Guangzhou juga telah mengisolasi dan mengkarantina puluhan ribu penduduk yang berada di dekat mereka yang terinfeksi. Pengujian dan karantina tampaknya telah memperlambat tetapi tidak menghentikan wabah. 

    Komisi Kesehatan Nasional Cina mengumumkan pada hari Jumat bahwa sembilan kasus baru Covid-19 telah ditemukan di Guangzhou pada hari sebelumnya. “Epidemi belum berakhir, dan risiko penularan virus masih ada,” kata Chen Bin, wakil direktur Komisi Kesehatan Kota Guangzhou.

    NEW YORK TIMES | REUTERS

    Baca:
    Kian Menjadi, Kasus Covid-19 Yogya Dekati 500 Sehari


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.