Covid-19 Varian Delta Menyebar di 80 Negara, Punya Gejala yang Berbeda

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kata

    Kata "COVID-19" tercermin dalam setetes jarum suntik dalam ilustrasi yang diambil pada 9 November 2020. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut Covid-19 varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar. Lembaga tersebut juga melaporkan bahwa varian ini memiliki gejala yang lebih parah, berbeda dengan varian lain.

    “Varian Delta menyebabkan gejala yang lebih parah, tapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan tersebut,” ujar salah satu pejabat WHO, seperti dikutip CNBC, Kamis, 17 Juni 2021.

    Varian Delta atau yang dijuluki B.1.617 telah menyebar ke seluruh dunia. Varian itu menjadi strain dominan di beberapa negara, seperti Inggris, dan kemungkinan terjadi di negara lain, seperti di Amerika Serikat. 

    Penelitian telah menunjukkan varian ini bahkan lebih menular daripada varian lainnya. Para ilmuwan memperingatkan bahwa data menunjukkan varian Delta sekitar 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha, sebelumnya dikenal sebagai varian Inggris atau Kent.

    ADVERTISEMENT

    Para peneliti menyarankan agar mewaspadai adanya tanda-tanda bahwa varian Delta dapat memicu gejala yang berbeda. Selama pandemi, pemerintah di seluruh dunia menjelaskan bahwa gejala utama Covid-19 adalah demam, batuk terus-menerus, dan kehilangan rasa atau penciuman dengan beberapa variasi.

    Daftar gejala terbaru CDC, misalnya termasuk kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, dan diare sebagai gejala infeksi yang mungkin terjadi. Tentu saja ada jutaan orang yang mengidap Covid-19 tanpa gejala sama sekali dengan tingkat penularan tanpa gejala yang masih diselidiki oleh para ilmuwan. 

    Varian Delta tampaknya memicu berbagai gejala yang berbeda, menurut para ahli. Tim Spector, seorang profesor epidemiologi genetik di King's College London, menjalankan studi Zoe Covid Symptom, sebuah studi di Inggris yang sedang berlangsung yang memungkinkan masyarakat untuk memasukkan gejala Covid mereka pada sebuah aplikasi kemudian datanya dianalisis.

    Dalam penjelasan virtual pekan lalu, Spector mengatakan Covid-19 juga bertindak berbeda sekarang. Ini lebih seperti flu yang parah pada populasi yang lebih muda. “Dan orang-orang tidak menyadarinya, itu belum ditemukan dalam informasi pemerintah mana pun,” ujar dia.

    Sejak awal Mei, Spector melihat gejala teratas di pengguna aplikasi dan mereka tidak sama seperti sebelumnya. Gejala nomor satu adalah sakit kepala, kemudian diikuti oleh sakit tenggorokan, pilek dan demam. Lebih banyak gejala Covid-19 tradisional seperti batuk, dan kehilangan penciuman jauh lebih jarang sekarang. “Orang yang lebih muda mengalami lebih banyak pilek,” tutur Spector.

    Selain itu, varian Alpha juga menyoroti munculnya serangkaian gejala yang lebih luas. Sebuah studi terhadap lebih dari satu juta orang di Inggris dalam studi REACT—yang melacak transmisi komunitas virus di Inggris antara Juni 2020 dan Januari 2021—mengungkapkan gejala tambahan terkait dengan virus corona Covid-19 termasuk kedinginan, kehilangan nafsu makan, sakit kepala dan nyeri otot, di samping gejala klasik. 

    CNBC | REACT | ZOE COVID SYMTOM

    Baca:
    Dua Sebab Mengapa Orang yang Sudah Divaksin Masih Bisa Terkena Covid-19


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.