Peneliti Vaksin Sinovac Meninggal, Kolega Sebut Covid-19 tanpa Demam

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana fasilitas produksi vaksin Covid-19 di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 4 Agustus 2020. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Suasana fasilitas produksi vaksin Covid-19 di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 4 Agustus 2020. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Divisi Surveillans dan Uji Klinis PT Bio Farma, Novilia Sjafri Bachtiar, meninggal setelah terinfeksi Covid-19, Rabu 7 Juli 2021. Koleganya Neni Nuraeny mengatakan, Novilia banyak merancang uji klinis berbagai vaksin yang dibuat Bio Farma. “Aktivitas beliau belakangan persiapan uji klinis beberapa vaksin,” kata Neni, Senior Project Manager di PT Bio Farma, Kamis 8 Juli 2021.

    Menurutnya, ada beberapa vaksin yang harus diuji klinis. Vaksin Sinovac misalnya, masih minta banyak tambahan data seperti untuk kalangan lanjut usia. Kemudian hasil uji klinis vaksin asal Cina selama enam bulan di Bandung juga masih dievaluasi.

    “Belum vaksin yang rutin seperti rotavirus, tifoid, MR (campak dan rubella), hepatitis B, BCG, masih banyak lagi,” ujar Neni.

    Novilia, di mata Neni, sudah sangat menjaga protokol kesehatan. Neni tidak mengetahui persis sumber penularan virus yang akhirnya menginfeksi rekannya tersebut. “Kita tidak bisa mencegah takdir,” ujarnya sambil menambahkan, sebelum terkonfirmasi positif Covid-19 Novilia sempat mengaku badannya sakit tapi tanpa gejala demam.

    Neni mengenang Novilia sebagai sosok yang baik, profesional, berdedikasi tinggi, dan mampu multitasking. Selain sibuk dengan pekerjaan di kantor, Novilia biasa menyiapkan masakan untuk keluarganya sebelum berangkat. “Sebagai ibu rumah tangga masih bisa masak jam 4 pagi, saya kagum,” katanya.

    Dr. Novilia Sjafri Bachtiar. Biofarma.co.id

    Novilia Sjafri Bachtiar yang lahir di Pekanbaru, 9 April 1969, merupakan lulusan S1-S3 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Karirnya di Bio Farma mulai 2001. Dia dan timnya ikut merintis bagian baru yaitu Evaluasi Produk yang kemudian berubah nama menjadi Uji Klinis.

    Dari laman resmi perusahaan, bagian ini dibuat saat Bio Farma mulai meluncurkan berbagai vaksin baru, sehingga dibutuhkan satu bagian khusus yang menangani uji klinis.

    Baca juga:
    Vaksin Sinovac, 3 dari 10 Orang Alami Kejadian Ikutan Pasca-Vaksinasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.