Rumah Sakit Sayap untuk Atasi Lonjakan Pasien Covid-19 di Yogya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu, 30 Juni 2021. Rumah sakit ini telah menerina bantuan 100 oksigen tabung dari Kepolisian Daerah Yogyakarta pada Ahad pukul 00.15 WIB dini hari. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu, 30 Juni 2021. Rumah sakit ini telah menerina bantuan 100 oksigen tabung dari Kepolisian Daerah Yogyakarta pada Ahad pukul 00.15 WIB dini hari. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengungkap rencana rumah sakit sayap. Mekanisme itu diyakini yang paling mungkin diterapkan untuk mengatasi ledakan pasien Covid-19 sepanjang Juli ini. 

    "Konsep rumah sakit sayap membantu agar pasien Covid-19 tidak menunggu terlalu lama di rumah sakit rujukan utama dan beban rumah sakit itu juga menjadi tidak terlalu berat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo, Kamis 29 Juli 2021.

    Dengan mekanisme ini, pasien Covid-19 tak harus menunggu selama 14 hari di rumah sakit rujukan utama sampai kondisinya benar-benar sembuh. Jika pada hari 10 sudah membaik, ia bisa langsung dipindahkan ke rumah sakit sayap untuk perawatan lanjutan.

    Tempatnya di rumah sakit rujukan utama bisa lalu untuk menangani pasien lain yang kondisinya berat atau kritis namun belum mendapat pertolongan. Beberapa contoh rumah sakit sayap di Sleman ini antara lain shelter Madriyah Islamic Center sebagai sayap RSUP Dr. Sarjito. Sementara Gedung Uci dan Wisma Kagama UGM menjadi sayapnya Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.

    "Saat ini memang permintaan perawatan di rumah sakit tetap ada, tetapi tidak setinggi awal Juli," kata Joko sambil menambahkan, "Dengan kapasitas ranjang yang ada saat ini, Sleman masih bisa menampung pasien yang rujukan maupun yang langsung ke IGD."

    Joko mengatakan, perkembangan kapasitas ranjang untuk rumah sakit kritikal di Sleman dari semula 56 unit sudah ditambah menjadi 224 unit. Kemudian untuk ranjang non kritikal dari 58 unit sudah dinaikkan menjadi 95 unit.

    Gugus Tugas Covid-19 DIY mencatat situasi Covid-19 di wilayah itu pada Kamis, 29 Juli 2021, terjadi penambahan sebanyak 1.920 kasus. Jumlah yang meninggal bertambah 58 sehingga total kasus meninggal menjadi 3.232 orang. 

    Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan saat ini tengah mengupayakan penambahan shelter untuk isolasi pasien positif Covid-19 DIY. “Untuk saat ini, terdapat 55 shelter yang dikelola Dinas Sosial DIY dengan daya tampung sebanyak 2.407 orang,” kata Sultan, Kamis.

    Sekretaris DIY Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan bahwa Pemda DIY tengah menindaklanjuti penggunaan fasilitas yang dapat digunakan untuk shelter. "Kebutuhan kita setidaknya daya tampung 3.000 orang, sesuai dengan arahan pusat, dan sekarang kan baru 2.000-an,” kata Aji.

    Sudah ada beberapa gedung yang diproses fasilitas operasionalnya namun belum difungsikan sebagai shelter untuk pasien isolasi mandiri Covid-19. Seperti Gedung BBWS, Asrama Mahasiswa UNY, Asrama Mahasiswa UGM, Gedung PIAT UGM, serta Asrama Kementerian PUPR di Maguwoharjo, Sleman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.