Aplikasi Cek Halal Makanan Karya Mahasiswa Unair Raih Penghargaan Internasional

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi halal. Shutterstock

    Ilustrasi halal. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi umat Muslim, memakan makanan halal adalah suatu kewajiban. Tak jarang, hampir semua makanan pada saat ini menampilkan logo halal pada produknya. Meski demikian, tidak jarang terjadi praktik curang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Berangkat dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa Universitas Airlangga atau Unair merancang sebuah aplikasi deteksi makanan halal bernama Haltect. Mereka adalah Estit Raca Alda Nur Wakhid mahasiswa Kesehatan Masyarakat 2019; Sulthan Fathi Nur Alauddin mahasiswa Teknik lingkungan 2019; Ardelia Bertha Prastika mahasiswa Kebidanan 2019; Muhammad Rizky Widodo mahasiswa Kesehatan Masyarakat 2018; dan Salsabila Farah Rafidah mahasiswa Kesehatan Masyarakat 2018.

    Dikutip dari laman UNAIR, Estit Raca Alda Nur Wakhid, selaku ketua tim mengatakan bahwa kehalalan produk olahan makanan merupakan masalah yang sangat serius karena sering ditemui beberapa pedagang curang yang mengganti atau menambahkan bahan produksi dengan daging Babi yang sekilas tampak mirip.

    Karena itu, untuk meminimalisir risiko tersebut perlu adanya pengawasan yang menjamin produk olahan agar tetap halal, aman, serta sehat dikonsumsi oleh masyarakat. Khususnya umat Muslim. Aplikasi yang diberi nama Haltech Detector juga sangat fleksibel.

    “Aplikasi ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk mendeteksi sedini mungkin secara mandiri dalam membeli produk olahan daging karena dapat langsung diinstal melalui smartphone masing-masing,” kata Alda seperti dikutip oleh Tempo, Minggu 25 Juli 2021

    Haltect dapat digunakan untuk menguji atau memeriksa adanya kontaminasi Babi pada olahan daging. Aplikasi berbasis teknologi UNP itu, memberikan sejumlah fitur tambahan yang menarik seperti edukasi terkait kehalalan dan lain-lainnya.

    Karena itu, ide yang mereka gagas mampu meraih medali perunggu pada gelaran International Invention Competition for Young Moslem Scientists (IICYMS) yang diselenggarakan pada Kamis-Minggu 1-4 Juli  2021. Pada kompetisi yang diselenggarakan secara online via Zoom Meeting itu, Alda dan tim berhasil menyisihkan 155 tim dari 13 negara di dunia. Ia mengungkapkan, Haltect juga mendapatkan dukungan yang luar biasa dari para juri internasional.

    Saat ini, Haltect sedang dalam tahap proses pengembangan dan kesiapan rancangan prototype. Alda dan tim berharap, aplikasi tersebut dapat segera direalisasikan agar inovasi itu bisa digunakan masyarakat luas.

    “Dalam jangka pendek, kami ingin memasukkan untuk program PKM. Cita-cita jangka panjangnya semoga Haltect bisa jadi startup yang memfasilitasi muslim-muslimah dalam halal lifestyle mereka,” kata Alda.

    NAUFAL RIDHWAN ALY

    Baca juga: Mahasiswa Unair Ciptakan Alat Detektor Kebohongan dengan Hasil Lebih Akurat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.