Mengenal Truth Social, Aplikasi Menyerupai Twitter Buatan Donald Trump

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sebuah ilustrasi foto menunjukkan akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang diblokir pada ponsel cerdas di White House, Washington, AS, 8 Januari 2021. Menurut Twitter, kedua cuitan itu harus dibaca dalam konteks peristiwa yang lebih luas bahwa pernyataan Presiden dapat dimobilisasi oleh audiens yang berbeda, termasuk untuk menghasut kekerasan. Tidak hanya itu, Twitter juga mengaku mengamati konteks pola perilaku dari akun Trump dalam beberapa pekan terakhir. REUTERS/Joshua Roberts

    Sebuah ilustrasi foto menunjukkan akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang diblokir pada ponsel cerdas di White House, Washington, AS, 8 Januari 2021. Menurut Twitter, kedua cuitan itu harus dibaca dalam konteks peristiwa yang lebih luas bahwa pernyataan Presiden dapat dimobilisasi oleh audiens yang berbeda, termasuk untuk menghasut kekerasan. Tidak hanya itu, Twitter juga mengaku mengamati konteks pola perilaku dari akun Trump dalam beberapa pekan terakhir. REUTERS/Joshua Roberts

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Presiden AS Donald Trump akan meluncurkan aplikasi media menyerupai Twitter, Truth Social. Aplikasi ini akan diluncurkan pada Februari mendatang dan masih dalam tahap pre-order. Seperti apa sebenarnya aplikasi Truth Social besutan Trump ini?

    Berdasarkan tangkapan layar di daftar App Store, aplikasi yang akan dirilis di perangkat iOS ini sangat mirip dengan Twitter. Halaman profil yang ditampilkan terlihat hampir persis dan unggahannya seperti memiliki ikon untuk membalas, membagikan ulang unggahan, favorit, dan berbagi. Bahkan penempatan menunya juga mirip, seperti home, cari, notifikasi, serta pesan. Trump sepertinya bukan hanya ingin menyaingi Twitter, tetapi juga menirunya.

    Reuters melaporkan aplikasi Truth Social akan dibuat melalui perusahaan baru yang dibentuk dari penggabungan Trump Media and Technology Group dan perusahaan akuisisi khusus (SPAC). Motif Donald Trump adalah membuat saingan untuk Twitter dan Facebook karena dirinya tak lagi diberikan izin menggunakan platform media sosial tersebut. Trump dilarang dari Twitter dan ditangguhkan dari Facebook setelah para pendukungnya menyerbu US Capitol.

    “Kita hidup di dunia di mana Taliban memiliki kehadiran besar di Twitter. Namun Presiden Amerika favorit Anda telah dibungkam. Ini tidak dapat diterima,” kata Trump dalam pernyataan tertulis, Oktober tahun lalu. Padahal, melansir dari BBC, media sosial memainkan peran penting bagi Trump untuk masuk ke Gedung Putih dan merupakan sarana komunikasi favoritnya sebagai presiden.

    Twitter dan Facebook mengambil keputusan untuk melarang atau menangguhkan Trump setelah kerusuhan Januari akibat pidatonya yang membuat klaim adanya kecurangan dalam pemilu. Menanggapi kerusuhan yang terjadi, Trump menyebut orang-orang di Capitol sebagai “patriot”. Selain itu, unggahannya di media sosial semakin menunjukkan bahwa ia tidak menerima hasil pemilihan.

    Pernyataan Trump mendorong Twitter dan Facebook untuk memutuskan bahwa terlalu berisiko untuk mengizinkannya terus menggunakan situs mereka. Tahun lalu kedua platform jejaring sosial itu juga mulai menghapus beberapa unggahan Trump atau melabelinya sebagai menyesatkan. Beberapa di antaranya cuitan Trump soal Covid-19 “kurang mematikan” daripada flu.

    CNBC melaporkan, jika Truth Social benar-benar diluncurkan seperti yang dijanjikan, jaringan tersebut akan menyediakan platform untuk Trump yang dilarang dari Facebook dan Twitter. Tanpa kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan pengikutnya secara online, Trump terpaksa mengandalkan siaran pers dan penampilan di saluran berita kabel.

    HENDRIK KHOIRUL MUHID

    Baca juga: Aplikasi Truth Social Buatan Trump Rilis Februari, Mirip Twitter?


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?