Fenomena Embun Beku di Papua Diprediksi Bertahan Sepanjang Bulan Ini

Warga mengamati fenomena lapisan embun es beku yang menyelimuti daun teh di Kebun Teh, Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis, 18 Juli 2019. Fenomena ini akibat kondisi suhu yang mencapai 8 hingga 3 derajat celsius saat musim kemarau. ANTARA/Novrian Arbi

TEMPO.CO, Jakarta - Cuaca ekstrem kering yang ditandai fenomena embun beku yang parah di kawasan pegunungan Lanny Jaya, Papua, bakal bertahan sepanjang Agustus ini. Di kawasan timur Papua seperti Kuyawage, kondisi kering bahkan kemungkinan dapat berlanjut hingga September.

"Kalau di wilayah pegunungan Lanny Jaya terdapat potensi musim basah pada September 2022," kata peneliti klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, dalam keterangan tertulis yang dibagikannya, Kamis 11 Agustus 2022.

Dia memaparkan fenomena embun beku, atau di wilayah lain dikenal sebagai embun upas, di Papua saat ini lebih disebabkan oleh faktor lokal yang menguat. Erma membandingkannya dengan faktor pengaruh anomali angin monsun timuran dari Australia. 

Data cuaca dari Bandara Sentani, Papua, yang dikirim ke Badan Meteorologi Dunia WMO menunjukkan suhu maksimum harian di wilayah itu mencapai lebih dari 34 derajat Celcius. Suhu minimum berkisar 22-23 derajat Celcius, dan temperatur titik embun rata-rata 21-22 derajat Celcius. Kondisi itu bertahan secara menerus selama lima hari sejak 24-28 Juli 2022.

Suhu maksimum itu, Erma menjelaskan, tertinggi selama Juli dan melebihi kondisi normalnya. Kondisi serupa pernah terjadi pada Juli 2020.

"Tendensi terjadinya peningkatan suhu maksimum dan penurunan suhu minimum harian ini disertai kelembapan udara yang rendah, yaitu kurang dari 77 persen yang membuktikan udara cenderung kering di wilayah Papua," katanya menuturkan.

Kondisi itu, menurut Erma, diperparah oleh ketiadaan awan di atas wilayah Indonesia karena dampak dari pembentukan bibit siklon tropis di Belahan Bumi Utara beberapa waktu lalu dan akan berlanjut selama Agustus 2022. 

Peneliti Agro-klimatologi Aris Pramudia mengatakan, kondisi itu jelas berpengaruh terhadap pertanian. Dia menjelaskan, di wilayah pegunungan biasanya ditanami pohon seperti teh, tembakau, ubi jalar, dan sayur-mayur. Jenis-jenis tanaman itu disebutnya tidak resisten terhadap gejala embun upas.

Dampak kekeringan yang dialami masyarakat di Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Papua, akibat fenomena cuaca ekstrem embun beku. (ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)

“Karena daunnya berpotensi mengalami kerusakan jaringan akibat pengerutan dari dampak pembekuan, dan tidak bisa kembali pulih,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang sama.

Untuk mitigasinya, Aris menyarankan, bisa dicoba dengan mengganti jenis tanaman dengan pohon pepaya yang lebih resisten embun beku dan kekeringan, seperti yang ditanam di wilayah pegunungan Dieng, Jawa Tengah. "Atau, komoditas tanaman lain yang berdaun tebal seperti kaktus, buah naga, nangka, durian, dan sejenisnya."

Baca juga:
Balita Diberi Obat Kedaluwarsa di Posyandu di Tangerang, Ini Kta Profesor Pediatrik

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Jakarta Banjir, BPBD DKI Imbau Warga Ibu Kota Waspada Cuaca Ekstrem Hingga 8 Oktober 2022

2 jam lalu

Jakarta Banjir, BPBD DKI Imbau Warga Ibu Kota Waspada Cuaca Ekstrem Hingga 8 Oktober 2022

Pada Rabu pagi, banjir yang sempat menggenangi 6 ruas jalan di Jakarta Selatan dan empat ruas jalan di Jakarta Timur telah surut.


BRIN Kembangkan 61 Teknologi, Ada yang untuk Memperlambat Kematangan Pisang

3 jam lalu

BRIN Kembangkan 61 Teknologi, Ada yang untuk Memperlambat Kematangan Pisang

BRIN mengembangkan teknologi untuk memperpanjang umur komoditas hortikultura.


BMKG Ingatkan Cuaca Ekstem, Waspadai 3 Jenis Penyakit Ini

12 jam lalu

BMKG Ingatkan Cuaca Ekstem, Waspadai 3 Jenis Penyakit Ini

Dosen UM Surabaya mengingatkan ada tiga jenis penyakit yang muncul di cuaca ekstrem.


Banjir Jakarta, 267 Personel Tim Reaksi Cepat Dikerahkan BPBD DKI Atasi Genangan

16 jam lalu

Banjir Jakarta, 267 Personel Tim Reaksi Cepat Dikerahkan BPBD DKI Atasi Genangan

Masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berpotensi menimbulkan banjir dan longsor.


Sumberdaya Genetika dan Penguasaan Bioteknologi Pilar Pembangunan Hijau Indonesia

21 jam lalu

Sumberdaya Genetika dan Penguasaan Bioteknologi Pilar Pembangunan Hijau Indonesia

Indonesia memiliki potensi sumber daya modal pembangunan


Tokoh Adat Minta MRP dan DPR Papua Bantu KPK untuk Bisa Periksa Lukas Enembe

1 hari lalu

Tokoh Adat Minta MRP dan DPR Papua Bantu KPK untuk Bisa Periksa Lukas Enembe

Tokoh Adat minta MRP dan DPR Papua melakukan pendekatan dengan tetua adat dari gunung agar pemeriksaan Lukas Enembe bisa segera dilakukan oleh KPK.


Komisioner Komnas HAM Baru Diharap Lanjutkan Dialog Damai Papua

1 hari lalu

Komisioner Komnas HAM Baru Diharap Lanjutkan Dialog Damai Papua

Anggota Tim Pansel Anwar Makarim berharap komisioner Komnas HAM yang baru bisa melanjutkan dialog damai di Tanah Papua.


Pemanggilan Lukas Enembe, KPK Hindari Upaya Penjemputan Paksa

1 hari lalu

Pemanggilan Lukas Enembe, KPK Hindari Upaya Penjemputan Paksa

KPK berupaya menghindari upaya penjemputan paksa terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe dalam kasus dugaan gratifikasi dan lebih mengutamakan persuasif


DPR Papua Barat Dukung TNI - Polri Tumpas KKB Penghambat Pembangunan

2 hari lalu

DPR Papua Barat Dukung TNI - Polri Tumpas KKB Penghambat Pembangunan

Orgenes mengatakan kebiadaban KKB di wilayah itu sangat mengganggu kenyamanan dan ketentraman masyarakat sipil pada umumnya.


Cuaca Ekstrem Jakarta hingga 8 Oktober 2022, BPBD: Waspada Banjir dan Angin Kencang

2 hari lalu

Cuaca Ekstrem Jakarta hingga 8 Oktober 2022, BPBD: Waspada Banjir dan Angin Kencang

BPBD DKI Jakarta menyiagakan layanan darurat 112 sebagai salah satu antisipasi potensi cuaca ekstrem yang terjadi hingga 8 Oktober 2022.