Nanoteknologi Pangan Sebaiknya pada Kemasan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bogor - Direktur PT Embrio Biotekindo,  laboratorium pangan berbasis di Bogor, Florentinus Gregorius Winarno, menyarankan sebaiknya penggunaan nanoteknologi di bidang pangan diarahkan ke produk kemasan dahulu. "Hal ini mempertimbangkan risikonya terhadap pangan yang masih gelap bagi kalangan ilmuwan sendiri," katanya dalam seminar "Nanoteknologi bagi Industri Pangan, Minuman, Farmasi dan Kosmetik" di IPB International Convention Center, Bogor, hari ini.

    Rektor Universitas Kristen Atmajaya Jakarta itu memaparkan peluang pemanfaatan teknologi nano pada kemasan dalam bentuk pemakaian partikel clay nano, yakni potongan-potongan partikel skala nano (seukuran sepermiliar meter) yang dapat disisipkan di seluruh lapisan kemasan pangan, seperti plastik.

    Penggunaan partikel nano ini akan dapat memperbaiki bahan kemasan plastik yang saat ini lazim dipakai untuk melindungi produk makanan. Partikel ini, kata dia, dapat memperlambat oksigen, karbon dioksida, dan air (H2O) keluar atau masuk ke makanan, sehingga meningkatkan daya tahan produk tersebut.

    Menurut Winarno, ada berbagai jenis partikel nano yang memiliki manfaat sesuai kebutuhan, seperti partikel nano yang antibakteri dan teknologi nano yang membuat kemasan dapat dimakan, yang dikenal sebagai food savety packaging.

    Teknologi nano pada kemasan yang lebih maju lagi, kata dia, disebut kemasan pintar (smart packaging), karena kemasan tersebut mampu "melaporkan" perubahan suhu, kehadiran patogen, kesegaran, integritas dan kelembaban pangan bersangkutan.

    "Pada kemasan itu ada semacam gambar yang akan berpendar bila makanan di dalamnya, misalnya, berubah suhunya atau sudah  tidak segar lagi," kata Winarno. Hal ini akan membantu konsumen untuk tidak membeli produk yang sudah tidak segar lagi atau beracun.

    Dalam kesempatan itu, Winarno juga memaparkan contoh-contoh produk yang sudah ada dan memakai teknologi nano, seperti peralatan yang dapat membersihkan diri sendiri atau menolak debu (nanoparticle dirt repelling) yang digunakan untuk kaca jendela dan pakaian. "Jadi, kaca jendela itu tak perlu dibersihkan lagi, karena bila ada angin yang menyentuhnya, dia akan langsung membersihkan dirinya (melepas debu pada kaca yang dilapisi partikel nano)," katanya.

    Kurniawan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.