Menghidupkan Legenda ThinkPad

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Krisis ekonomi global yang melanda dunia baru-baru ini telah mempengaruhi bisnis komputer jinjing. Dampak besar terjadi di segmen bisnis dan enterprise, yang penurunannya mencapai 30 persen. Para vendor pun terpapar getahnya.

    Tak terkecuali Lenovo. "Memang tak besar, tapi kami harus menyiasati ini untuk berfokus pada segmen usaha kecil dan menengah," kata Sandy Lumy, Chief of Representative Office Lenovo, kepada Tempo beberapa waktu lalu.

    Salah satu strategi Lenovo adalah mengeluarkan komputer jinjing kelas bisnis tapi dengan harga yang terjangkau. Ini adalah model tawaran yang takkan kita temukan beberapa tahun lalu, ketika saat itu sudah jelas bahwa produk bisnis harganya pun selangit.

    Strategi lain adalah meluncurkan ThinkServer, server dengan kelengkapan tool bagi perusahaan skala kecil dan menengah. Server ini disertai pula berbagai peranti lunak yang akan memudahkan perusahaan dalam menjalankan sistemnya.

    Nah, kembali ke soal laptop bisnis, Lenovo membuat ThinkPad (seri bisnis vendor asal Taiwan itu) seri SL300, 400, dan 500. Ukuran layarnya berturut-turut 13 inci, 14 inci, dan 15 inci.

    Seri SL anyar ini dibanderol dari Rp 6.990.000. "Produk ini membawa nilai legendaris dari ThinkPad namun dengan harga yang terjangkau," kata Sandy.

    Penetrasinya ke pasar memang tak digembar-gemborkan, seperti produk-produk consumer. Tapi Lenovo sudah memasarkannya ke beberapa lembaga dan perusahaan, seperti institusi pendidikan, perusahaan asuransi, institusi pemerintahan, dan perbankan.

    Tapi pengguna perorangan pun tak ketinggalan. Salah satunya adalah Tito Edy, seorang anggota staf perusahaan swasta di Jakarta. Lelaki berkacamata ini tadinya masih menimbang-nimbang membeli SL atau laptop keluaran sebuah merek Amerika Serikat.

    Kebesaran nama ThinkPad membuatnya mengambil keputusan. "Saya suka bentuk ThinkPad yang konvensional itu Mas, ada kelasnya," tutur lelaki 30 tahun ini.

    Secara desain, tak ada perubahan dibanding model-model ThinkPad lainnya. Tubuhnya hitam dengan desain kaku. Tapi inilah yang membuatnya mendapat tempat tersendiri di jagat perkomputeran, sejak masih bernaung di bawah nama IBM sampai kini di bawah kendali Lenovo.

    "Kami optimistis pada segmen usaha kecil dan menengah, terutama dengan produk yang tepat seperti SL," kata Sandy. Di sisi lain, Sandy melanjutkan, pasar segmen ternyata mulai memperlihatkan grafik naik 15 persen per tahun atau 14 persen per kuartal.

    Demi mengurangi harga, Lenovo memang melakukan kompromi pada seri SL, di antaranya pengurangan daya tahan terhadap beban tindihan menjadi 60-70 kilogram. Model ThinkPad lain sanggup sampai 120 kilogram.

    Selain itu, prosesor yang dipakai berskala menengah, antara lain Intel Core 2 Duo seri T5 dan T6. Tapi, di trah tertinggi, tersedia pilihan Core 2 Duo T9400.

    Memori RAM-nya sampai 4 gigabita (GB) dan hard disk ATA-nya berkapasitas 80 GB, 160 GB, 250 GB, dan 320 GB dengan kecepatan 5.400 RPM. Resolusi layar dari 1.280 x 800 sampai 1.680 x 1.050 dengan fitur antisilau.

    Video grafis memakai produk Intel Graphics Media Accelerator X4500 dan nVidia GeForce 9300M (dengan VRAM 128-256 Megabita).

    Koneksi nirkabelnya terdiri atas Bluetooth, Wi-Fi, dan WAN. Adapun koneksi port terdiri atas port USB, layar eksternal, mikrofon, headphone, dan HDMI. Tersedia pula slot kartu memori eksternal.

    Selaku laptop kelas bisnis, Lenovo menambahkan ThinkVantage Active Protection System untuk melindungi komputer dan ThinkPad Shock-Mounted Hard Drive Standard untuk melindungi hard disk dan data, di samping Fingerprint Reader.

    DEDDY SINAGA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.