Pemanasan Global Tetap Sahih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Meski pagi-pagi saat ini di Beijing terukur paling dingin sepanjang hampir 40 tahun terakhir dan curahan hujan saljunya paling banyak sejak 1951; di Inggris juga periode cekaman gelombang massa udara dingin paling panjang sejak 1981 bukan berarti pemanasan global tidak terbukti. Para ahli menyatakan, musim dingin ekstrem kali ini hanya riak kecil dalam tren pemanasan jangka panjang.

    “Ini adalah bagian dari variabilitas alam,” kata Gerald Meehl, peneliti senior di National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado, Amerika Serikat. Dengan pemanasan global, Meehl mengatakan, “Kita masih mungkin memiliki suhu dingin. Frekuensinya saja yang akan bekurang.”

    Deke Arndt dari National Climatic Data Center di Asheville, North Carolina, menekankan fakta bahwa 2009 termasuk dalam kelompok 10 tahun terpanas sejak 1880. Gejala cuaca yang ekstrem seperti gelombang panas, badai, banjir, dan kekeringan justru memastikan kalau iklim memang berubah.

    Khusus cekaman ekstrem musim dingin yang sedang terjadi, Arndt menunjuk telah jebolnya massa udara dari Kutub Utara yang kemudian 'membanjiri' udara kota-kota besar di belahan bumi utara. Kondisi ini mirip yang memicu banjir besar di Jakarta pada awal 2007 dan 2008 lalu. Saat itu massa udara dingin dari Siberia bablas sebagai sebuah cold surge ke selatan hingga ke atas Pulau Jawa.

    Di atmosfer, di atas sana, sungai besar berisi massa udara mengalir dari barat ke timur, mengelilingi Bumi, diantara Kutub Utara dan Tropik. Aliran itu berperan seperti pagar yang menjaga massa udara dingin Kutub Utara tetap berada di wilayahnya.

    Yang terjadi belakangan adalah pagar itu sudah bengkak-bengkok ke utara dan selatan, mirip pola aliran sungai yang mengular jika dilihat dari pesawat terbang. Jika kebetulan berada di wilayah dimana pagar itu bengkok ke utara, cuaca disana lebih hangat daripada biasanya karena yang jebol adalah massa udara dari selatan (tropik). Musim dingin yang lebih hangat daripada biasanya itu dilaporkan terjadi di Washington dan Alaska.

    “Pola zigzag (massa udara pembatas kutub utara dan tropis) itu memang terjadi alami dari waktu ke waktu, tapi tidak tahu kenapa kali ini pola itu sangat kuat,” ujar Michelle L'Heureux, meteorolog di Pusat Ramalan Iklim, Badan Kelautan dan Atmosferik Amerika Serikat.
    (WURAGIL/AP)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?