Fuji Xerox Meluncurkan Mesin Cetak Ramah Lingkungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Semakin banyaknya penggunaan listrik mengakibatkan semakin banyak pula emisi karbon yang dihasilkan. Sedangkan borosnya penggunaan kertas bisa berdampak pada semakin banyaknya pohon atau hutan yang dibabat.

    Untuk mencegah kerusakan lingkungan itulah, Astra Graphia dan Fuji Xerox meluncurkan mesin cetak multifungsi yang ramah lingkungan. Mesin cetak warna ini adalah Apeosport IV dan Docucenter IV yang diluncurkan dalam beberapa seri, antara lain 2270, 3370, 4470 dan 5570.

    Dua model mesin cetak ini merupakan bagian dari solusi "Eco Smart Work Place" yang ditawarkan Astra Graphia dan Fuji Xerox. Solusi tersebut mengusung konsep green office dengan teknologi-teknologi ramah lingkungan. Solusi ini dijanjikan mampu menciptakan area kantor yang lebih peduli lingkungan, namun tetap memberikan keuntungan bisnis.

    Antara lain dengan menggunakan bahan biomass plastic pada beberapa bagian mesin yang bergerak, yakni lebih dari 30 persennya terbuat dari ampas jagung. Untuk pengoperasian, mesin ini juga didesain hemat listrik. Print head LED, fuser, sumber cahaya pemindai hingga tonernya lebih disempurnakan.

    Teknologi print head LED yang dikembangkan Fuji Xerox dengan nama DELCIS (Digitally Enhanced Lighting Control Imaging System) memungkinkan konsumsi listrik berkurang hingga 45 persen dan dimensi mesin bisa lebih kecil. Resolusi cetaknya mencapai 1200 x 2400 dpi, lebih tinggi dari teknologi laser di kelasnya.

    Jika sebelumnya hanya digunakan untuk output pencetakan, pada dua produk ini print head LED juga digunakan untuk proses input atau pemindaian. Dengan print head LED pada pemindai, cahaya yang dihasilkan 1,5 kali lebih terang daripada lampu xenon di mesin cetak umumnya.

    "Konsumsi listrik hanya sepertiga dari mesin lain atau penghematan hingga 70 persen," ujar David Donovan Tampubolon, kepala departemen solusi industri PT Astra Graphia Tbk, dalam acara peluncuran kedua produk ini di Jakarta, Selasa (23/2) lalu.


    Fuser tradisional juga diganti dengan fuser baru yang konsumsi listriknya 25 persen lebih rendah. Fuser baru ini memakai teknologi Induction heating, membuat mesin ini mempunyai waktu start up tercepat di dunia. "Dari sleep mode sampai ready cuma 3 detik saja, yang lain sampe 30 detik," kata David. Proses pemanasan mesin memang mengambil porsi listrik cukup banyak, hingga 70 persen.

    Selain penyempurnaan fuser, Fuji Xerox juga menggunakan emulsion aggregate-eco toner pada dua mesin cetak multifungsi ini. Dengan teknologi ini, suhu saat melelehnya toner menjadi 20 derajat celcius lebih rendah ketimbang toner biasa. Konsumsi listrik juga bisa dikurangi hingga 15 persen.

    Hasil dari pengembangan teknologi-teknologi tersebut, kata David, rata-rata konsumsi listrik yang bisa dihemat mencapai 80 persen. Fuji Xerox mengklaim produk anyarnya ini mampu memenuhi standar "Energy Star", yakni dengan nilai TEC (Typical Electricity Consumption) 75 persen lebih rendah dari mesin cetak lain.

    Sedangkan untuk menghemat kertas, Apeosport IV dan Docucenter IV menawarkan solusi pembatasan penggunaan printer dengan fitur secure information access dan private charge print. Secure information access adalah untuk membatasi akses pengguna printer. Jadi, pengguna yang sudah diotorisasi saja yang bisa mencetak. Maksimal pengguna yang bisa didaftarkan hingga 1.000 orang.

    Adapun private charge print adalah untuk mengatur berapa lembar kertas yang bisa dicetak oleh pengguna tertentu. "Misalnya si A, bisa mengcopy warna dengan jumlah 52 lembar saja," kata dia. Selain menghemat kertas, kedua fitur ini mencegah bocornya dokumen penting atau salah ambil dokumen.

    "Dokumen bisa disimpan dulu, begitu ada perintah dari pengguna baru dicetak." Perintah mencetak akan dijalankan setelah mesin memverifikasi pengguna lewat kartu. Solusi ini juga dilengkapi alat pembaca kartu (card reader).

    Dokumen yang dipindai bisa langsung disimpan di komputer dalam versi elektronik atau disalin di USB. Jika menerima faksimili masuk, pengguna juga tak perlu mencetaknya. Produk ini dilengkapi fasilitas untuk menarik kiriman faks ke hard disk komputer yang terkoneksi, untuk dibaca dalam versi elektroniknya sehingga hemat kertas.

    Menurut Hendrix Pramana, kepala pemasaran Astra Graphia, harga kedua produk ini berkisar Rp.100 juta hingga Rp.200 juta, tergantung solusi atau fitur apa saja yang diinginkan.

    Dim


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.