Risiko Parbuckling dalam Operasi Costa Concordia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal pesiar mewah Costa Concordia yang karam pada Januari 2012 di pulau Giglio, berhasil didirikan  melalui usaha yang memakan waktu 19 jam (18/9). REUTERS/Tony Gentile

    Kapal pesiar mewah Costa Concordia yang karam pada Januari 2012 di pulau Giglio, berhasil didirikan melalui usaha yang memakan waktu 19 jam (18/9). REUTERS/Tony Gentile

    TEMPO.CO, Giglio - Proyek parbuckling untuk pengangkatan kapal Costa Concordia yang kandas dekat Pulau Giglio, Italia, sebenarnya sangat riskan. Teknik ini biasanya digunakan untuk mengangkat kayu gelondongan ke atas truk menggunakan titian. Namun, kapal bukanlah obyek berbentuk silinder seperti batang kayu. Hal itu membuat penggunaan parbuckling dalam operasi ini lebih bertujuan untuk memutar kapal kembali ke posisinya yang benar ketimbang menggulirkan puing kapal di atas titian.

    Teknik penyelamatan parbuckling mengerahkan gaya diagonal pada kapal yang karam pada Januari 2012 itu. Jika kapal bergeser ke samping, bukannya berputar seperti apa yang diharapkan, mustahil untuk bisa mengembalikan kapal ke posisi dimana kapal bisa diungkit hingga tegak lurus.

    Kedalaman air juga membawa dampak besar pada pekerjaan teknis di sekitar kapal. Menurut Simon Boxall, dari National Oceanography Centre, bila kedalaman air bertambah 10 meter saja, hal itu bisa membuat parbuckling project tak akan membuahkan hasil.

    Selain berbagai risiko itu, proyek penyelamatan Costa Concordia memiliki skala yang jauh lebih besar ketimbang operasi pengangkatan kapal dengan teknik parbuckling sebelumnya. Kapal pesiar ini memiliki panjang hampir 300 meter dan bobot lebih dari 114 ribu ton. 

    Kapal karam itu juga terisi air dan lambung kapal koyak besar di salah satu sisi sehingga bagian struktur tersebut harus diperkuat. Agar kapal tak hancur, kekuatan yang dikerahkan harus benar-benar seimbang selama proses parbuckling. 

    Penyelamatan Costa Concordia pada Selasa, 17 September 2013, terdiri atas upaya memutar kapal sehingga berdiri tegak di atas sebuah panggung penyangga bawah air dan dapat ditarik ke pantai.

    Reruntuhan kapal awalnya terbaring pada sisi kanannya, pada sudut 65 derajat dari sumbu vertikalnya. Para engineer harus memutarnya paling tidak sekitar 40 derajat sebelum mereka dapat memanfaatkan gaya gravitasi untuk menegakkan kapal.

    "Ini operasi yang sempurna,” kata Franco Porcellacchia, kepala tim teknis perusahaan pelayaran Costa Crochiere, yang dimiliki oleh firma Amerika Carnival Cruises.

    Pemilik kapal berencana menarik kapal itu untuk dilucuti. Material yang masih dapat diselamatkan diperkirakan sekitar 30 ribu ton.

    RINA ATMASARI | L REUTERS | CNN | PHYSICSCENTRAL | TJANDRA DEWI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.