Burung Betina Jarang Berkicau, Ilmuwan Temukan Alasannya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor burung Bangau membuat sarang di area hutan Mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah, 3 Maret 2015. Tempo/Budi Purwanto

    Seekor burung Bangau membuat sarang di area hutan Mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah, 3 Maret 2015. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Australia - Trio ahli biologi baru saja mengungkap alasan burung betina jarang berkicau dibanding burung jantan. Ternyata mereka takut nyanyian malah mengundang pemangsa ke sarang.

    “Awalnya, kami menduga mereka tak butuh menarik lawan jenis dengan nyanyian seperti kaum jantan,” kata Sonia Kleindorfer, salah seorang peneliti yang terlibat, seperti dilansir Science Mag, Kamis, 14 Januari 2016, waktu setempat. Namun pengamatan dari 72 sarang burung berkicau di Australia mengungkap penjelasan lain.

    Umumnya, burung betina hanya berkicau untuk merespons pejantannya. Sebagian burung –yang menjalani hidup monogami –akan terbang kembali ke sarang setelah mencari makan. Kicauan merupakan tanda bahwa pejantan sudah pulang, dan betina akan menjawab dengan nyanyian bernada serupa, meski dengan volume rendah.

    Nyanyian ini ternyata mengandung bahaya, karena mengungkap lokasi sarang bagi predator seperti ular. Awalnya, para peneliti membuat sarang dan telur palsu; yang dibarengi rekaman suara nyanyian burung. Frekuensi kicauan sengaja diatur dalam jumlah tertentu.

    Hasilnya, dengan frekuensi 20 nyanyian per jam, 40 persen telur dimakan predator. Sedangkan dalam frekuensi lebih rendah, yakni enam kicauan per jam, persentase merosot hingga 20 persen. “Bagaimana pun kicauan ini memang mengundang bahaya,” ucap Kleindorfer.

    Temuan ini memunculkan pemahaman baru tentang evolusi burung. Burung betina terpaksa mengurangi frekuensi kicauan, bahkan berhenti sama sekali, demi kelangsungan hidup.

    SCIENCE MAG | PHYS | URSULA FLORENE



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.