Begini Dialog Finalis Kalbe Junior Scientist Award dengan Menlu

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Finalis Kalbe Junior Scientist Award tampak sangat antusian bertanya kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Gedung Pancasila, Jumat, 13 Oktober 2017. (Dok. Kementerian Luar Negeri)

    Finalis Kalbe Junior Scientist Award tampak sangat antusian bertanya kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Gedung Pancasila, Jumat, 13 Oktober 2017. (Dok. Kementerian Luar Negeri)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak cerita menarik dalam pertemuan 36 finalis Kalbe Junior Scientist Award 2017 dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, di Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Oktober 2017. Pertemuan ini dipandu pesohor Shahnaz Haque. Ikut mendampingi Menteri Retno, Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius.

    Dustin Raka, siswa kelas 7 SMP Negeri I Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya. Dustin yang tinggal di Sanggau, tak jauh dari salah satu pos perbatasan paling populer Entikong, bertanya soal kehidupan di wilayah perbatasan. “Penduduk di sana banyak membeli produk Malaysia. Mereka jual beli juga menggunakan ringgit. Bagaimana pemerintah mengatasi masalah itu,” kata Dustin kepada Menteri Retno Marsudi.

    Menurut Menteri Retno, pemerintah Joko Widodo fokus pada pembangunan kawasan di perbatasan. “Dari desa menuju kota, dari timur ke barat,” kata Retno mengutip Presiden Jokowi. Menurut Retno, pemerintah mulai memperbaiki pos-pos perbatasan dan juga memperbaiki perekonomian di wilayah perbatasan.

    Retno kemudian menunjukkan foto-foto di sejumlah pos perbatasan. “Bagus-bagus kan,” ujar menteri lulusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada ini.

    Pertanyaan lain datang dari Angelina Abigail Saputro. Ia meminta izin untuk bertanya dalam bahasa Inggris. Siswa Santo Nicholas School, Medan, ini bertanya soal kesibukan Retno Marsudi sebagai menteri luar negeri. “Problem saya yang paling berat ini adalah soal jetlag. Sering saya bertanya kepada staf, saya ada di mana sekarang. Ini jawaban bukan yang serius,” kata Retno.

    Retno menceritakan, tugas menteri luar negeri tidaklah mudah. Yang utama, kata Retno, adalah memperjuangkan kepentingan nasional, dan memberikan kontribusi terhadap perdamaian. Ia memberikan contoh peran Indonesia dalam krisis Rohingya di Myanmar dan Bangladesh. Indonesia sudah mengirim delapan pesawat berisi bantuan Indonesia untuk pengungsi di Myanmar dan Bangladesh.

    Perempuan kelahiran Semarang ini juga menunjukkan foto sebuah sekolah di Myanmar. “Sekolah ini hasil bantuan dari lembaga swadaya masyarakat, juga dari berbagai pihak di Indonesia,” katanya. Retno, pada awal September lalu juga mengunjungi Myanmar untuk membantu menyelesaikan krisis di negara itu.

    Menteri Retno juga memberikan kuis tebak tokoh internasional. Ada tiga tokoh yang ditampilkan, yakni Sekjen PBB Antonio Guterres, dan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson. Tebakannya lucu-lucu. “Presiden Inggris,” kata salah satu finalis.

    Dengan sabar, Retno menjelaskan bahwa Inggris merupakan kerajaan, sehingga tak mengenal presiden. Juga ketika ada yang menebak Cekoslowakia. “Negara itu sudah bubar, dan pecah menjadi Republik Ceko dan Slowakia. Ini sekalian memberikan pelajaran,” kata Retno. Retno kemudian memberikan hadiah berupa tas notebook.

    Kalbe Junior Scientist Award 2017 merupakan penyelenggaraan yang ke-7. Kompetisi tahun ini diikuti 1.103 peserta dari 26 provinsi. Dari jumlah itu, terpilih 18 karya ilmiah yang diajukan oleh 36 anak. Peserta kompetisi ini adalah kelas IV SD hingga kelas VII SMP. Untuk menambah wawasan dan memberikan keteladanan, para finalis ini dipertemukan dengan sejumlah tokoh. Tahun ini, mereka bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.