Cegah Pembakaran Lahan Gambut, BPPT Kembangkan Produk Biopeat

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BPPT Unggul Priyanto memberikan pupuk Biopeat kepada petani di Pulau Burung, Riau, Rabu, 8 Agustus 2018. Kredit: BPPT

    Kepala BPPT Unggul Priyanto memberikan pupuk Biopeat kepada petani di Pulau Burung, Riau, Rabu, 8 Agustus 2018. Kredit: BPPT

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama PT Riau Sakti United Plantations (RSUP) mengembangkan produk Biopeat guna memanfaatkan lahan gambut tanpa dibakar untuk pertanian dan perkebunan.

    Baca: BPPT Siap Dukung Teknologi Pengadaan Mobil Listrik
    Baca: Robot ROV Bawah Air Milik BPPT Berhasil Diangkat dari Danau Toba

    "Dengan Biopeat ini, maka kebakaran lahan akibat gambut yang dibakar dapat dikurangi. Inovasi biopeat ini jelas menjadi solusi teknologi, saat ini tengah dikembangkan BPPT bersama industri lokal, yakni RSUP, di Kepulauan Riau," ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto, dalam keterangan tertulis, pada Rabu, 8 Agustus 2018.

    Melalui rekayasa bioteknologi di sarana laboratorium yang dimiliki BPPT, mikroorganisme lokal (indigenous) telah dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian atau perkebunan melalui peningkatan pH tanah gambut dan penyediaan nutrisi tanaman, sehingga inovasi biopeat dapat ditanami tanpa membakar lahan.

    Lahan gambut tropis mengandung asam-asam organik yang tinggi, hasil degradasi lignin dari tanaman yang melapuk dan menyebabkan peningkatan keasaman tanah atau membuat pH rendah. Dengan memanfaatkan mikroba potensial itu asam-asam organik menjadi sumber karbon untuk pertumbuhannya. Aktivitas mikroba tersebut akan memberikan dampak positif bagi perbaikan kualitas tanah.

    "Aplikasi pupuk hayati Biopeat pada tanah gambut mampu meningkatkan pH tanah dari semula rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5. Dengan meningkatnya pH tanah gambut, maka peluang mikroba penyubur tanah lainnya yang bertahan hidup di lingkungan tanah gambut juga ikut meningkat, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur," kata Untung.

    Produk Biopeat BPPT, Untung melanjutkan, telah teruji kemampuannya melalui serangkaian uji aplikasi. Selain memperbaiki kualitas hasil panen, Biopeat juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama.

    Setelah diuji, Biopeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung sebesar 45 persen, buah nanas grade A sebesar 31 persen, dan meningkatkan kadar kemanisan buah naga hingga mencapai rata-rata Brix 15 persen, cukup jauh di atas nilai brix buah naga di pasaran yang hanya mencapai 11 persen.

    "Untuk mendukung pengkajian dan penerapan teknologi BioPeat serta pemanfaatan hasil-hasilnya kepada masyarakat, RSUP telah membangun Laboratorium dan Pusat Informasi Teknologi BioPeat (LPITBio) dan Unit Produksi BioPeat dengan dukungan teknologi dari BPPT," tutur Untung.

    LPITBio merupakan tempat untuk melakukan riset pengembangan produk Biopeat, sekaligus sebagai pusat informasi dan edukasi bagi para petani lahan gambut. Hal itu dilakukan untuk mengenal dan memahami teknologi BioPeat sehingga dapat mengaplikasikannya untuk pertanian lahan gambut tanpa melakukan pembakaran.

    Saat ini, pemanfaatan teknologi produksi Biopeat yang telah dikembangkan BPPT dilakukan oleh RSUP. "Kami menginginkan agar para petani untuk stop bakar lahan, Biopeat ini mampu memberi kesuburan lahan gambut dengan menambah tingkat keasaman atau kadar pH," tambah Untung. "Dengan ini maka Biopeat sanggup menggantikan budaya membakar lahan."

    Simak artikel lainnya tentang BPPT di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.