Kenapa Hanya BMKG Kita Beri Peringatan Tsunami Saat Gempa Palu?

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto kenangan warga sebelum terdampak bencana terpasang di lokasi bekas bencana gempa dan likuifaksi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad, 30 Desember 2018. Petobo adalah kelurahan yang paling parah terdampak likuefaksi pasca-gempa Palu Donggala akhir September 2018 lalu. ANTARA/Mohamad Hamzah

    Foto kenangan warga sebelum terdampak bencana terpasang di lokasi bekas bencana gempa dan likuifaksi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad, 30 Desember 2018. Petobo adalah kelurahan yang paling parah terdampak likuefaksi pasca-gempa Palu Donggala akhir September 2018 lalu. ANTARA/Mohamad Hamzah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menceritakan kenapa saat terjadi gempa Palu dan sekitarnya, hanya BMKG Indonesia yang memberikan peringatan dini tsunami. Padahal biasanya, lembaga sejenis di Hawaii dan Jepang, mengeluarkan peringatan jika terjadi ancaman tsunami.

    "BMKG besar lain yang ada di Jepang dan Hawaii tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami. Hanya Indonesia diikuti Australia dan India yang merupakan mitra BMKG Indonesia," kata Dwikorita dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Jumat, 5 April 2019.

    NASA Saja Heran, Kenapa Gempa Palu Sangat Cepat

    Dwikorita mengatakan BMKG di Jepang dan Hawaii tidak mendeteksi kemungkinan terjadinya tsunami karena keunikan tsunami Palu sehingga analisis kegempaan mereka tidak mendeteksi kemungkinan tsunami.

    Menurut Dwikorita, BMKG di seluruh dunia menggunakan sistem yang sama, yaitu tsunami dipicu oleh gempa bumi. Gempa di Palu terjadi akibat patahan bumi yang bergeser, tetapi kekuatannya dinilai tidak cukup kuat untuk membangkitkan tsunami.

    "Lokasi gempa di pantai juga dianalisis tidak cukup kuat membangkitkan tsunami. Ternyata, tsunami Palu terjadi akibat longsor bawah laut dan likuifaksi," tuturnya.

    Dwikorita mengatakan tsunami Palu merupakan tsunami jarak dekat dan menerjang dalam waktu yang relatif singkat sehingga menelan banyak korban.

    "Seluruh dunia, termasuk Indonesia, belum memiliki kesiapan teknologi untuk menganalisis tsunami seperti itu. Tsunami Palu merupakan peristiwa langka bagi seluruh dunia," katanya.

    Menurut survei yang dilakukan BMKG di Palu, tsunami di Palu dan sekitarnya terjadi hanya dua menit setelah gempa. Yang pertama mengalami tsunami adalah Kabupaten Donggala yang berada dekat dengan pusat longsor bawah laut.

    "Seandainya BMKG Jepang saat itu mengeluarkan peringatan dini tsunami, prosesnya paling cepat tiga menit setelah gempa. BMKG memproses peringatan dini tiga menit hingga lima menit setelah gempa," katanya.

    Dwikorita mengatakan perkiraan dan peringatan dini tsunami saat ini dilakukan menggunakan superkomputer dan kecerdasan buatan yang kemudian diverifikasi kembali oleh manusia.

    "Dalam sebuah diskusi di Singapura, saya menantang superkomputer terkuat yang dimiliki Amerika Serikat untuk mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu satu menit. Mereka juga angkat tangan," katanya.  

    Berita lain tentang gempa Palu dan tsunami Palu bisa Anda ikuti di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.