Gempa Bermagnitudo 5,5 Guncang Cilacap, Terasa sampai Bandung

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gempa. shutterstock.com

    Ilustrasi gempa. shutterstock.com

     TEMPO.CO, BandungGempa tektonik bermagnitudo 5,7 mengguncang wilayah Cilacap dan sekitarnya, Ahad, 9 Juni 2019, pukul 16.32.23 WIB. Warga di Bogor dan Bandung ikut merasakan goyangannya selama beberapa detik.

    Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono lewat keterangan pers menyebutkan, wilayah Samudera Hindia selatan Jawa diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa ini berkekuatan M=5,7 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,5.

    Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,68 LS dan 108,82 BT. "Atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 107 kilometer arah selatan Kota Cilacap, Jawa Tengah pada kedalaman 64 kilometer," ujarnya, Ahad, 9 Juni 2019.

    Gempa tergolong berkedalaman menengah. "Diakibatkan oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempang Eurasia," kata dia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan lindu dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik (thrust fault).

    Guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan di daerah Pangandaran, Cilacap, Ciamis, dan Kebumen dalam skala intensitas III MMI dan Bandung dalam skala intensitas II MMI. Skala itu menunjukkan benda ringan yang tergantung bergoyang hingga guncangan gempa terasa seperti truk yang lewat.

    Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami

    Hingga pukul 16.47 WIB, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock). BMKG minta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.