Ilmuwan Australia Peringatkan Badai Pemicu Kepunahan Massal Baru

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dinosaurus T-Rex. telegraph.co.uk

    Dinosaurus T-Rex. telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Terakhir kali bencana alam memusnahkan spesies terjadi 66 juta tahun lalu, ketika sebuah tumbukan asteroid mengakhiri era dinosaurus. Berdasarkan penelitian, bencana  kepunahan massal sebesar itu bukan pertama, melainkan yang kelima.

    Ilmuwan Rolf Schmidt dari Invertebrata Palaeontology Museum di Melbourne, Australia memprediksi bahwa gelombang kematian baru bisa terjadi. Dalam wawancaranya untuk "The Next Extinction Event" dari Amazon Prime, Schmidt mengingatkan, perubahan iklim dapat berkontribusi pada perubahan lingkungan dan mengakibatkan punahnya beberapa spesies.

    "Dalam beberapa kasus seperti selama kepunahan Ordovician, pembentukan gunung-gunung besar, ketika yang lain terkikis, secara efektif mengeluarkan karbon dioksida dari atmosfer yang menyebabkan level-levelnya turun. Inilah yang mungkin terjadi, menyebabkan zaman es," ujar Schmidt, dikutip sputniknews, Senin, 2 September 2019.

    Dia menunjuk hubungan antara tingkat karbon dioksida di atmosfer dan iklim  tidak selalu merupakan faktor yang memicu perubahan. Menurutnya lonjakan karbon dioksida (CO2) mungkin telah memicu pemanasan sebelumnya, sementara ketika levelnya turun bisa memicu zaman es.

    Schmidt juga menyebutkan penyebab lain, termasuk perubahan orbit Bumi, pergeseran tingkat radiasi Matahari, yang menghangatkan Bumi dan memprakarsai umpan balik C02 yang menghasilkan pemanasan lebih lanjut. Ketika fluktuasi seperti itu terlalu cepat, ini bisa berakibat fatal bagi beberapa spesies.

    "Perubahan iklim yang cepat sering menyebabkan spesies tidak mampu beradaptasi dengan cukup cepat. Jika lingkungan berubah terlalu cepat untuk spesies khusus, mereka mati," kata Schmidt, dikutip oleh The Daily Express.

    Menguraikan perspektif suram untuk Bumi, Schmidt menjelaskan bahwa ada penanda jelas kepunahan massal jika semuanya bergerak lebih cepat. Dan laju perubahan saat ini dengan deforestasi, bentangan kota, fragmentasi habitat; yang menghentikan adaptasi spesies, menjadi kekhawatiran masa depan.

    "Ada pemikiran, bahwa saat ini perubahannya melebihi kecepatan di mana spesies dapat beradaptasi," tutur Schmidt. "Ini tidak seperti kepunahan massal lainnya, lebih merupakan badai kondisi yang sempurna, bukan hanya satu seperti perubahan iklim atau asteroid, tapi sejumlah hal yang kita miliki saat ini."

    SPUTNIK NEWS | THE DAILY EXPRESS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.