Habitat Dirusak, Buaya di Babel Jadi Ancaman Warga

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buaya muara sedang berjemur di atas batu Pantai Bangka Belitung (Babel.antaranews.com/Aprionis)

    Buaya muara sedang berjemur di atas batu Pantai Bangka Belitung (Babel.antaranews.com/Aprionis)

    TEMPO.CO, Jakarta - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bangka Belitung mengharapkan pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan melindungi habitat buaya untuk menekan konflik dengan manusia di daerah itu.

    "Kami berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan izin usaha penambangan, pembangunan pabrik, perumahan dan perkebunan di kawasan habitat buaya ini," kata Kepala Resort BKSDA Babel, Yusmono di Pangkalpinang, Rabu, 30 Oktober 2019.

    Terakhir buaya muncul di Pantai Putat Belinyu, Bangka, pekan ini, seperti terlihat di video yang viral di media sosial. "Benar, buaya yang muncul sesuai video yang beredar di media sosial berada di pantai Putat," kata Kapolres Bangka AKBP Aris Sulistyono, Selasa.

    Pada April lalu, seorang bocah tewas digigit buaya ketika mandi di sebuah sungai di Belitung Timur. 

    Kepala Resort BKSDA Babel, Yusmono, mengatakan saat ini konflik antara buaya dengan manusia sudah cukup tinggi, karena habitat hewan melata tersebut sudah semakin sempit akibat pembangunan pabrik, perumahan, perkebunan dan penambangan di sepanjang pantai, sungai, hutan rawa-rawa dan tempat berkembang biak buaya tersebut.

    Selain itu, aktivitas menangkap ikan menggunakan alat tidak ramah lingkungan  juga mengurangi populasi ikan sebagai makanan utama buaya.

    "Kita harus melihat secara luas, kenapa kasus serangan buaya kepada manusia mengalami peningkatan. Tidak mungkin mereka menyerang jika habitatnya tidak terganggu oleh aktivitas manusia," ujarnya.

    Menurut dia, perubahan habitat buaya sebagai kawasan industri, pemukiman, perkebunan dan pencemaran limbah tambang ini mengakibatkan buaya buas dan menyerang manusia.

    "Jangan sampai habitat buaya ini semakin berkurang dan mereka semakin terdesak untuk berkembangbiak serta mencari makan, karena tidak ada kebijakan pemerintah untuk melindunginya," katanya.

    Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Belitung, Aswind membenarkan maraknya kemunculan buaya di sungai, muara dan pantai, karena terganggunya habitat hewan tersebut.

    "Salah satu cara mengurangi konflik dengan buaya ini, kita harus bisa memulai dari sejak dini yaitu memperbaiki lingkungan habitat tempat buaya berkembang dan mencari makan," katanya.

    Menurut dia kerusakan lingkungan dan ekosistem tempat habitat buaya ini salah satu pemicu konflik dengan manusia.

    "Kami berharap masyarakat tidak lagi merusak ekosistem aliran sungai. Mari kita jaga alam, karena ini moto pengurangan resiko bencana yang telah dicanangkan Kepala BNPB beberapa waktu lalu," katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.