Ini Remdesivir, Obat Eksperimen untuk Atasi Wabah Virus Corona

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas melakukan pengecekan pada pasien yang terkena penyakit pneumonia akibat virus corona di Rumah Sakit Pusat Wuhan Via Weibo di Wuhan, Cina. Penelitian genetika telah dilakukan atas virus corona misterius di Wuhan, Cina. THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO/Handout via REUTERS

    Seorang petugas melakukan pengecekan pada pasien yang terkena penyakit pneumonia akibat virus corona di Rumah Sakit Pusat Wuhan Via Weibo di Wuhan, Cina. Penelitian genetika telah dilakukan atas virus corona misterius di Wuhan, Cina. THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Gilead Sciences mengumumkan menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Cina, Amerika Serikat, dan sejumlah lembaga kesehatan di dunia untuk menguji efisiensi dan efektivitas remdesivir (GS-5734), produk yang sedang dalam uji dan pengembangan menjadi obat antivirus. Uji klinis dilakukan secara cepat setelah dalam uji laboratorium obat eksperimental itu didapati sangat efektif melawan infeksi virus corona baru yang sedang mewabah dari Wuhan, Cina.

    Remdesivir adalah sebuah 'nucleotide analogue prodrug' yang awalnya sebenarnya dikembangkan menjadi obat infeksi virus Marburg dan Ebola dari keluarga virus filoviridae. Kedua virus itu pernah mewabah di Afrika pada 2014-2016.

    Meski belum tersertifikasi atau lolos uji sebagai obat, perawatan dengan remdesivir menunjukkan efektivitas melawan jenis virus corona seperti severe acute respiratory syndrome (SARS)--wabah yang sama menular dan mematikan seperti 2019-nCoV.

    Remdisivir dan obat malaria chloroquine muncul sebagai dua yang paling efektif di antara lima antivirus yang diuji Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS secara in vitro (diuji ke sel mengandung virus corona Wuhan dan juga pada tikus dan hewan non primata di laboratorium).

    Remdesivir lalu mulai diujikan kepada manusia setelah pasien kasus corona Wuhan yang pertama di Amerika Serikat berkembang semakin kritis. Si pasien menjadi mengidap pneumonia dan dokter yang merawatnya mencoba penggunaan remdesivir pada hari ke-7. Hasilnya, tidak ada efek samping berbahaya dilaporkan sementara kondisi si pasien membaik.

    Ilustrasi virus Corona. REUTERS/Dado Ruvic

    Merdad Parsey, chief medical officer di Gilead Sciences menerangkan seluruh proses itu. Parsey mendetilkan beberapa pihak yang bekerja sama dengan Gilead untuk produksi remdesivir. Dia menyebut Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Cina, dan WHO.

    Sejalan dengan uji klinis yang dikabarkan bakal dilakukan di Cina, Parsey mengungkap rencana Gilead mengembangkan uji laboratorium remdesivir terhadap sampel 2019-nCoV dan menyediakan obat eksperimen itu secara terbatas ke kalangan dokter untuk penggunaan darurat. Ini sekaligus mengisi kekosongan vaksin virus corona Wuhan saat ini. "Kami melakukannya atas permintaan para dokter yang menangani pasien dan kalau didukung badan regulator negara setempat," kata Parsey.

    Pada 4 Februari, FDA juga menerbitkan otorisasi penggunaan darurat 2019-nCoV Real-Time RT-PCR Diagnostic Panel. Ini adalah produk medis lain yang sebenarnya belum tersertifikasi tapi telah digunakan karena desakan wabah virus corona.

    “Saat ini, risiko wabah virus corona bagi warga Amerika masih rendah dan kami bekerja keras untuk tetap seperti itu," kata Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Alex Azar, dalam kicauannya yang menjelaskan adanya otorisasi itu.

    CONTAGIONLIVE | NATURE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.