Potensi Gempa 8,7 M di Sukabumi, BMKG: Bukan untuk Menakut-nakuti

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gempa magnitudo 5,0 mengguncang Sukabumi sampai Bandung pada Senin pagi, 6 Januari 2020. Kredit: BMKG

    Gempa magnitudo 5,0 mengguncang Sukabumi sampai Bandung pada Senin pagi, 6 Januari 2020. Kredit: BMKG

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gempa hingga 8,7 Magnitudo dari zona megathrust di laut selatan Sukabumi, Jawa Barat. Gempa itu, berdasarkan simulasi atau pmodelan, bisa memicu tsunami setinggi lebih dari tiga meter.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, lewat keterangan tertulis yang dibagikannya Jumat 28 Februari 2020, menyebut potensi gempa itu telah diketahui dari hasil kajian 2011 lalu. Kajian berikutnya tentang potensi bahaya dari gempa itu, kata Rahmat, sangat penting dilakukan untuk tujuan mitigasi dan pengurangan risiko bencana.

    Tambahan dari pemodelan hampir sepuluh tahun lalu, dia mengungkapkan, adalah tingkat guncangan yang mencapai intensitas VIII-IX dalam Skala MMI. Artinya bisa sangat merusak. 

    “Jadi ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan agar pemerintah daerah segera menyiapkan upaya mitigasinya secara tepat,” kata Rahmat sambil menambahkan, "Mitigasi itu bersifat struktural atau teknis maupun kultural."

    Hal penting lain yang harus dipahami masyarakat, Rahmat mengatakan, gempa 8,7 Magnitudo adalah potensi hasil kajian dan bukan prediksi. Sebab, meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo di zona megathrust, Rahmat menerangkan, hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan gempa akan terjadi.

    "Di tengah ketidakpastian kapan akan terjadi gempa yang berpotensi memicu tsunami, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial, ekonomi, dan korban jiwa seandainya gempa benar terjadi," katanya menguraikan.

    Pemerintah, menurut Rahmat, penting memperhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah. Termasuk penataan ruang pantai yang aman tsunami. “Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak dalam mendukung dan memperkuat penerapan “building code” dalam membangun struktur bangunan tahan gempa.”

    Dia juga mengingatkan, adanya hasil kajian potensi bencana oleh para ahli jangan sampai membuat masyarakat yang bermukim di dekat sumber gempa dan daerah rawan tsunami ketakutan. Warga, menurutnya, harus meningkatkan kemampuan dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan tsunami serta mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan evakuasi.

    BMKG meminta masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.