Wabah COVID-19 Viralkan Istilah Herd Immunity, Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruangan Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Darurat Corona di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, Senin, 23 Maret 2020. TEMPO/M Rosseno Aji

    Ruangan Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Darurat Corona di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, Senin, 23 Maret 2020. TEMPO/M Rosseno Aji

    TEMPO.CO, Bandung - Istilah herd immunity atau kekebalan bersama viral di grup-grup percakapan di tengah kasus infeksi virus corona COVID-19 di Indonesia yang terus bertambah. Ada beragam makna yang menyertai, di antaranya ambang batas dari kekebalan tubuh banyak orang yang dapat menurunkan jumlah kejadian infeksi dengan sendirinya.

    Menurut Wakil Ketua Tim Pencegahan dan Kewaspadaan COVID-19 Universitas Padjadjaran, Irvan Afriandi, herd immunity terbentuk dari individu-individu yang memiliki kekebalan terhadap suatu infeksi secara alami tanpa vaksin. Ketika jumlah mereka mencapai proporsi tertentu dari suatu populasi, maka peluang terjadinya infeksi di populasi tersebut akan menurun.

    “Tindakan vaksinasi merupakan suatu contoh dari pemanfaatan pemahaman kita terhadap herd immunity ini,” kata Wakil Dekan Fakultas Kedokteran yang juga dosen di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat itu, Selasa 24 Maret 2020. 

    Irvan menjelaskan, angka proporsi orang yang kebal dalam suatu populasi beragam terhadap jenis infeksi penyakitnya. Dia mencontohkannya dengan difteri dan campak.

    Mengutip tabel penyakit infeksi dalam artikel Paul Fine dari London School of Hygiene and Tropical Medicine pada 1993, angka reproduksi dasar (basic reproduction number) difteri sebesar 6-7. Artinya seorang yang terinfeksi virus itu mampu menularkannya ke 6-7 orang lain. 

    Pada kasus difteri tercatat herd immunity treshold 85%. “Kekebalan bersama dianggap efektif akan melindungi masyarakat, jika telah terjadi tingkat kekebalan individu 85 persen,” ujar Irvan.

    Sedang pada virus campak (measles), angka reproduksi dasar 12-18 orang dan kekebalan bersama berkisar 83-94 persen. Semakin tinggi angka reproduksi dasar suatu infeksi, Irvan menjelaskan, semakin tinggi pula kekebalan populasi atau herd immunity yang diperlukan agar bisa mengeliminasi penyakitnya.

    "Teori itu digunakan sebagai dasar kenapa pemerintah harus mencapai cakupan atau persentase tertentu dari program imunisasi di masyarakat," katanya.

    Dalam kasus infeksi COVID-19 saat ini, menurut Irvan, semua orang rentan. Para ahli sedang meneliti berapa angka reproduksi dasar dari infeksi virus penyebab pneumonia akut ini. 

    Dia memberi catatan tambahan bahwa angka reproduksi dasar dari suatu penyakit tergantung dari derajat keganasan virus. Selain beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti seberapa lama kuman penyebab infeksi dapat bertahan hidup di lingkungan atau alam, jumlah paparan atau dosis kuman yang diperlukan untuk terjadinya penyakit, durasi paparan terhadap kuman, dan seberapa cepat infeksi kuman menimbulkan gejala-gejala awal.

    “Tentu saja dengan tidak mengabaikan upaya-upaya penanggulangan yang bersifat kuratif atau pengobatan dan perawatan bagi penderita yang terkena,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.