Turuti WHO, Raksasa Farmasi Stop Uji Klinis Hydroxychloroquine

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hydroxychloroquine. Obat malaria dan radang sendi ini di antara sejumlah obat yang diuji klinis kepada pasien Covid-19 di sejumlah negara. ANTARA/Shutterstock/am

    Hydroxychloroquine. Obat malaria dan radang sendi ini di antara sejumlah obat yang diuji klinis kepada pasien Covid-19 di sejumlah negara. ANTARA/Shutterstock/am

    TEMPO.CO, Paris - Raksasa farmasi Sanofi telah memutuskan menghentikan sementara perekrutan pasien Covid-19 untuk uji klinis hydroxychloroquine. Mereka juga menyatakan tidak akan lagi memasok obat malaria, rheumatoid arthritis (peradangan sendi) dan lupus tersebut untuk pengobatan pandemi penyakit virus corona 2019 sampai tak ada kekhawatiran soal keamanannya. 

    Penghentian diumumkan Jumat waktu setempat, 29 Mei 2020, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunda uji coba luas atas hydroxychloroquine. Seperti diketahui, jenis obat itu termasuk di antara yang digunakan dalam solidarity trial di banyak negara di dunia.

    Penundaan oleh WHO memicu sejumlah pemerintahan negara di Eropa melarang penggunaan obat tersebut. Kekhawatiran WHO berpusat pada sebuah laporan yang dirilis jurnal Inggris, The Lancet, bahwa konsumsi obat tersebut meningkatkan tingkat kematian pasien dan menyebabkan detak jantung tak beraturan.

    Perkembangan ini menjadi pukulan keras bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pernah menyanjung Hydroxychloroquine sebagai harapan untuk mengakhiri pandemi. Trump bahkan memberi contoh dengan mengkonsumsinya sendiri.

    Sanofi sendiri melakukan dua uji klinis hydroxychloroquine secara terkontrol dan acak untuk Covid-19. Uji pertama diharapkan dilakukan pada 210 pasien di Amerika Serikat, Prancis, Belgia dan Belanda yang tidak berada di rumah sakit dan mengalami tahap awal gejala penyakit itu.

    Uji kedua berfokus pada pasien rawat inap dengan gejala sedang hingga parah di Eropa. Menurut rencana, uji klinis tersebut akan melibatkan sekitar 300 pasien.

    Sanofi dan pesaingnya, Novartis, juga pernah menjanjikan donasi puluhan juta dosis hydroxychloroquine untuk membantu penanganan pandemi Covid-19. Untuk itu, pada bulan lalu, perusahaan Prancis tersebut mengaku telah menggandakan kapasitas produksi di delapan lokasi dan siap menggenjot produksi hydroxychloroquine lebih banyak.

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.