Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Cerpelai Denmark, Harimau Sumatera, Pesan Menristek

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mendorong puluhan cerpelai yang dimusnahkan di pertanian Henrik Nordgaard Hansen dan Ann-Mona Kulsoe Larsen dekat Naestved, Denmark, 6 November 2020. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengungkap temuan 12 orang terinfeksi mutasi virus Covid-19. Ritzau Scanpix/Mads Claus Rasmussen via REUTERS.

    Petugas mendorong puluhan cerpelai yang dimusnahkan di pertanian Henrik Nordgaard Hansen dan Ann-Mona Kulsoe Larsen dekat Naestved, Denmark, 6 November 2020. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengungkap temuan 12 orang terinfeksi mutasi virus Covid-19. Ritzau Scanpix/Mads Claus Rasmussen via REUTERS.

    TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Hari Ini diawali dari artikel mengenai pemusnahan cerpelai di Denmark demi mengantisipasi wabah baru Covid-19 di negeri itu. Saat ini, setelah 10 juta dari total 17 juta populasi hewan ternak jenis itu telah dibantai, pemerintahan setempat mengaku ada kesalahan.

    Berita kedua masih terkait Covid-19, tepatnya vaksin Covid-19. Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menilai efek samping demam yang disebutkan terjadi pada 10 persen relawan uji klinis di Bandung hal biasa. Menurutnya, ada dua hal lain yang justru harus mendapat perhatian dalam hal pengembangan vaksin Covid-19 yang akan digunakan di tanah air.

    Berita ketiga tentang kemampuan hewan buas harimau, termasuk Harimau Sumatera Bonita yang pernah menerkam dan menewaskan dua orang di Riau, untuk beradaptasi dengan manusia. "Ada truk tidak takut, ada motor tidak takut, dengan manusia juga tidak takut."

    Berikut ini Top 3 Tekno Berita Hari Ini, Sabtu 28 November 2020, selengkapnya,



    1. Sebut Pembantaian Cerpelai Kesalahan, Perdana Menteri Denmark Menangis

    Perdana Menteri Denmark, Mette Fredriksen, berkunjung ke sebuah keluarga pemilik peternakan cerpelai di Kolding, Denmark bagian tengah, Kamis 26 November 2020. Dia meminta maaf secara pribadi atas cara pemerintahannya menangani cerpelai terinfeksi virus corona Covid-19.

    Hingga hari itu, sebanyak 10 juta dari total populasi 17 juta cerpelai yang ada di Denmark telah dimusnahkan. Termasuk yang dibantai adalah cerpelai milik keluarga peternak itu. Mereka kehilangan seluruh hewan ternaknya setelah pemerintah setempat khawatir virus corona mutan dari mamalia yang dipanen bulunya itu melompat ke manusia.

    Baca juga:
    Stop Penyebaran Virus Corona Mutan, Denmark akan Musnahkan 15 Juta Cerpelai

    Belakangan penyelidikan internal menyatakan pemerintah Denmark tak memiliki dasar hukum yang cukup untuk perintah pemusnahan massal cerpelai-cerpelai itu. Di antara gejolak politik yang kemudian muncul, pada pekan lalu, Menteri Pertanian Mogens Jensen mundur dari jabatannya.

    2. Uji Vaksin Sinovac Bikin 20 Persen Relawan Demam, Menristek Pesan Ini

    Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan  bahwa apapun jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan dan akan dipakai nanti, harus dipastikan pertama-tama bahwa vaksin itu aman kemudian bisa bekerja efektif. Adapun efek samping berupa demam satu-dua hari dinilainya hal biasa, seperti saat vaksinasi penyakit lainnya.

    "Efek samping (demam) itu sepertinya hal yang biasa, toh kita waktu masih kecil barangkali setelah divaksin satu-dua hari demam tapi setelah itu sembuh," ujar menristek, Jumat 27 November 2020.

    Baca juga:
    Total 20 Persen Relawan Uji Vaksin Sinovac di Bandung Demam Setelah Disuntik

    Menristek menyatakan itu saat menanggapi perkembangan terkini dari uji klinis vaksin Sinovac di Bandung, Jawa Barat. Dia mengatakan bahwa pemerintah, dalam hal ini kementerian yang dipimpinnya, tak terlibat langsung dalam uji klinis vaksin Covid-19 asal Sinovac Biotech, Cina, itu. Namun dia berpesan, jangan sampai suatu vaksin saat diberikan justru menimbulkan efek samping yang terlalu berat bagi penerimanya. Apalagi sampai membahayakan nyawa. 

    3. Pakar Satwa Liar Sebut Harimau Sumatera Dapat Beradaptasi dengan Manusia

    Pakar satwa liar dari Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), Muhammad Ali Imron, mengatakan bahwa harimau adalah hewan liar yang dapat beradaptasi dengan manusia. Karakteristik itu disebut Imron bahkan dimiliki Bonita, seekor Harimau Sumatera yang pernah menerkam dan menewaskan dua orang di Indragiri Hilir, Riau, pada 2018 lalu.

    Sebelumnya, kehadiran Bonita di perkebunan sawit PT. THIP Desa Tanjung Simpang kerap dianggap sebagai Harimau jadi-jadian. facebook/Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

    "Jadi Bonita itu sebenarnya familiar dengan manusia. Ada truk tidak takut, ada motor tidak takut, dengan manusia juga tidak takut. Ini menunjukkan bahwa Bonita secara personality bisa beradaptasi dengan manusia," katanya di peluncuran buku 'Bonita: Hikayat Sang Raja' karya jurnalis senior Haidir Anwar Tanjung, Jumat 27 November 2020.

    Baca juga:
    Harimau Sumatera Diperangkap di Tapanuli Selatan ternyata Kurus dan Malnutrisi

    Menurut Imron ada beberapa karakteristik hewan liar, terutama dalam hal ini harimau, yang kerap terlibat konflik dengan manusia. Salah satunya adalah karena habitatnya telah terdegradasi. "Habitat itu, konfliknya terjadi di situ. Jarang konflik terjadi di dalam kawasan hutan," kata dia.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.