Ramadan, Tes GeNose Direkomendasikan Kurang dari 6 Jam Setelah Sahur

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mensosialisasikan cara pengambilan sampel kepada peserta simulasi pelayanan GeNose C19 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis, 8 April 2021. Simulasi tersebut dilakukan sebagai tahap persiapan pelayanan GeNose C-19 di Bandara Ngurah Rai. ANTARA/Fikri Yusuf

    Petugas mensosialisasikan cara pengambilan sampel kepada peserta simulasi pelayanan GeNose C19 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis, 8 April 2021. Simulasi tersebut dilakukan sebagai tahap persiapan pelayanan GeNose C-19 di Bandara Ngurah Rai. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Peneliti dan tim pengembang alat deteksi Covid-19 GeNose C19 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dian Kesumapramudya mengatakan bahwa pemeriksaan Covid-19 menggunakan alat itu tetap bisa digunakan selama bulan puasa Ramadan.

    Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembacaan hasil GeNose bisa akurat. "Kami rekomendasikan pemeriksaan GeNose dilakukan pagi hari, yang paling optimal kurang dari 6 jam setelah sahur," kata Dian Senin 12 April 2021.

    Menurut Dian, jika tes dilakukan lebih dari 6 jam usai sahur dikhawatirkan tubuh yang berpuasa sudah mengalami peningkatan asam lambung. Kondisi meningkatnya asam lambung ini berpotensi mempengaruhi hasil pembacaan alat yang berbasis embusan napas itu.

    Terkait peningkatan asam lambung ini, kata Dian, sebenarnya juga bisa disiasati dengan berkumur. Atau, melakukan pemeriksaan setelah waktu berbuka puasa.  "Selain pagi, tes GeNose sebaiknya dilakukan 1 jam setelah berbuka puasa," kata peneliti GeNose C19 lain, Mohamad Saifuddin, menambahkan.

    Pada hari-hari biasa, untuk skrining adanya infeksi virus SARS CoV-2 lewat embusan napas ini pengguna diminta untuk puasa atau tidak makan/minum  yang berbau khas. Selain itu, juga tidak merokok sekitar 30 menit hingga 60 menit sebelum pemeriksaan. Dengan begitu, meminimalkan terjadinya positif palsu hasil pembacaan GeNose C19.

    Dian menyampaikan saat ini GeNose C19 masih berproses validasi eksternal sebelum bisa masuk digunakan dalam penanganan Covid-19 nasional. Validasi eksternal  merupakan uji diagnostik yang dilakukan secara independen oleh tim peneliti lain. Beberapa peneliti yang terlibat dalam validasi eksternal ini, antara lain dari UI, Universitas Airlangga, dan Universitas Andalas.

    "Nantinya kalau dari validasi eksternal ini hasil akurasi konsisten, kemungkinan besar GeNose direkomendasikan Kemenkes untuk perluasan pemakaiannya, termasuk di puskesmas-puskesmas," katanya.

    Saat ini GeNose C-19 telah diterapkan sebagai syarat skrining bagi pelaku perjalanan penumpang kereta api dan pesawat terbang. Sebanyak 44 stasiun di tanah air telah menggunakan GeNose untuk skrining Covid-19, menyusul empat bandara, yaitu di Medan, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya.

    Baca:
    Kementerian Riset dan Teknologi Dilebur, Begini Tanggapan Dekan FKUI

    CATATAN:

    Artikel ini telah diubah pada Selasa, 13 April 2021, Pukul 10.50 WIB. Perubahan dilakukan pada judul dan isi kutipan langsung narasumber dan membuatnya lebih tepat. Terima kasih.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.