Bukan Varian Delta, Kepala Eijkman Ungkap Varian Covid-19 Dominan di Indonesia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tenaga kesehatan membersihkan diri usai bertugas merawat pasien di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa 15 Juni 2021. Menurut Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Tugas Ratmono, pihaknya menambah jumlah kapasitas tempat tidur menjadi 7.394 dari 5.994 akibat tingginya penularan COVID-19 di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Seorang tenaga kesehatan membersihkan diri usai bertugas merawat pasien di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa 15 Juni 2021. Menurut Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Tugas Ratmono, pihaknya menambah jumlah kapasitas tempat tidur menjadi 7.394 dari 5.994 akibat tingginya penularan COVID-19 di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini ada empat varian Covid-19 yang cukup berbahaya, yaitu varian yang pertama ditemukan di Inggris, B.1.1.7 atau Alpha; varian dari Afrika Selatan, B.1.351 atau Beta; varian dari Brasil, P1 atau Gamma; dan varian asal India B.1.617 atau Delta. Keempat varian tersebut dijuluki variant of concern oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, menerangkan, dari empat variant of concern itu tiga sudah terindentifikasi di Indonesia. “Kalau jumlah varian, ada tiga variant of concern, mustinya kan ada empat, karena varian P1 belum terdeteksi di Indonesia,” ujar dia, saat dihubungi Selasa malam, 15 Juni 2021.

    Namun, varian yang dominan menginfeksi di Indonesia bukan Alpha, Beta, maupun Delta, melainkan ada satu satu varian, yaitu B.1.466.2. Varian ini tidak termasuk dalam variant of concern dan variant of interest yang disebut WHO. 

    “Ini khas varian di Indonesia. Sebenarnya di luar negeri juga ada, namun terbanyak ditemukan di Indonesia,” kata Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

    Varian tersebut pertama kali diidentifikasi di Papua Nugini. Selain di Indonesia, varian B.1.466.2 juga terdeteksi di 14 negara lain, yaitu Singapura, Jepang, Malaysia, Australia, Bahrain, India, Denmark, Kamboja, Korea Selatan, Papua Nugini, Jerman, Inggris, Portugal, dan Amerika Serikat.

    Sebelumnya, pada Maret lalu, Amin menjelaskan adanya pergeseran kelompok atau grade SARS-CoV-2 yang mendominasi di Indonesia. Jika awal tahun lalu dominasinya adalah SARS-CoV-2 grade L, S, dan O, tapi jika dibandingkan dengan akhir tahun 2020 didominasi grade G dan turunannya, termasuk GR dan GH.

    “Pergeseran itu memang terjadi di Indonesia. Di dunia juga begitu,” tutur peraih gelar Ph.D dari Osaka University/Kobe University itu, pada 16 Maret 2021 lalu.

    Sementara itu Covid-19 varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, sudah mulai menyebar di Indonesia. Amin mengatakan gejala pada pasien Covid-19 varian Delta di Indoneesia masih sama dengan varian-varian lain. “Belum ada laporan sahih tentang perbedaan gejala pada pasien yang terinfeksi varian Delta,” ujar dia.

    Baca:
    Covid-19 Varian Delta Cepat Menular, Kepala Eijkman Beberkan Karakternya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.