Membandingkan Respons Imun Tubuh Anak dan Dewasa saat Terinfeksi Covid-19

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga melalui layanan mobil vaksin Covid-19 keliling di Rusun Jatinegara Kaum, Jakarta, Senin, 19 Juli 2021. Sejumlah anak mengikuti vaksinasi melalui program mobil vaksin keliling. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga melalui layanan mobil vaksin Covid-19 keliling di Rusun Jatinegara Kaum, Jakarta, Senin, 19 Juli 2021. Sejumlah anak mengikuti vaksinasi melalui program mobil vaksin keliling. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Perbedaan antara respons imun tubuh pada anak-anak dan orang dewasa bisa menerangkan kenapa anak-anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 umumnya tak mengalami gejala seberat orang dewasa. Anak-anak tidak kebal dari infeksi SARS-CoV-2, namun rata-rata yang terinfeksi tak sampai sakit parah dan jauh lebih sedikit yang meninggal dibandingkan pasien dewasa Covid-19.

    Sophie Valkenburg dari University of Hong Kong dan koleganya membandingkan respons imun pada 24 anak dan 45 orang dewasa yang seluruhnya terkonfirmasi terinfeksi virus corona Covid-19. Mereka menemukan pada anak-anak lebih sedikit sel-T yang spesifik virus corona yang teraktivasi. Sel-T adalah sel imun yang dapat menarget dan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus.

    Kadar antibodi yang diproduksi untuk melawan beta-virus corona juga lebih rendah pada anak-anak. Beta-virus corona adalah keluarga virus corona yang mencakup di dalamnya SARS-CoV-2.

    Para peneliti menyimpulkan bahwa respons imun yang berkurang pada anak-anak bisa menerangkan kenapa mereka cenderung memiliki gejala yang lebih ringan daripada orang dewasa. Ini sejalan dengan temuan bahwa respons imun yang berlebih malah dapat berkontribusi kepada gejala Covid-19 yang parah. Fenomenanya dikenal sebagai badai sitokin.

    Sophie dan timnya mempublikasikan hasil studi mereka dalam jurnal Nature Communications edisi 29 Juli 2021. Di sana mereka menyatakan respons imun tubuh lewat produksi sel-T meningkat berdasarkan usia dan juga waktu infeksi.

    NEW SCIENTIST, NATURE

    Baca juga:
    Tips dari Para Ahli agar tidak Tertular Covid-19 Varian Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.