Facebook Summit 2021 Digelar Pekan Depan, Ini Agenda dan Para Pembicaranya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet pengguna ponsel terlihat di samping layar proyeksi logo Facebook dalam ilustrasi gambar yang diambil 28 Maret 2018. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    Siluet pengguna ponsel terlihat di samping layar proyeksi logo Facebook dalam ilustrasi gambar yang diambil 28 Maret 2018. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak lebih dari 50 pemimpin global dan regional akan berhimpun dalam Facebook Summit pada Selasa, 28 September 2021. Mereka disebutkan Facebook sebagai yang telah menciptakan standar baru dalam industri, mengusung ide dan gagasan tentang bagaimana pelaku bisnis dan merek menggunakan platform seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger untuk lebih terlibat secara kreatif, serta mampu mengembangkan komunitas masing-masing.

    Benjamin Joe, Vice President for Southeast Asia and Emerging Markets di Facebook, mengatakan bahwa perusahaannya memahami kecepatan pemulihan dari pandemi Covid-19 sangat berbeda-beda di setiap wilayah. Benjamin berjanji terus fokus untuk mempercepat pemulihan di Asia Tenggara dengan melakukan yang terbaik dalam menyediakan akses dan koneksi, serta berbagi wawasan untuk membantu komunitas dan bisnis dalam menavigasi realitas yang baru.

    “Melalui Facebook Summit tahun ini, kami akan mengangkat tentang ketahanan bisnis dengan mendalami tren yang muncul, serta alat utama yang dapat menghemat waktu, mendorong kinerja, dan mempercepat digitalisasi,” katanya dalam keterangan tertulis yang dibagikan pekan ini.

    Ajang tahunan untuk ketiga kalinya ini juga akan menghadirkan kisah inspiratif para pelaku usaha dari berbagai skala yang telah berhasil mendemonstrasikan ketahanan dengan cara menyusun ulang model bisnis untuk beradaptasi terhadap tantangan yang ada. Sebagai contoh adalah Mindvalley, layanan pendidikan berbasis teknologi dengan 18 juta lebih pelajar secara global. Perusahaan ini dinilai berhasil menavigasi bisnisnya melampaui tantangan dan memanfaatkan momentum untuk penemuan, inspirasi, dan hubungan dengan pelanggan mereka di tengah pandemi.

    “Mindvalley beralih ke model bisnis berlangganan, mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) untuk personalisasi, dan mengalihkan kekuatan kepada komunitas mereka,” kata Benjamin sambil menambahkan, “Kisah bisnis seperti Mindvalley ini adalah satu dari sekian banyak inspirasi yang dapat dipelajari di Facebook Summit.”

    Hasil studi telah menunjukkan bahwa digitalisasi adalah kunci utama ketahanan bisnis dalam ekonomi pascaCovid-19, seiring dengan peningkatan konsumsi dan gaya hidup yang home-centric. Studi terbaru dari Facebook dan Bain & Company juga menyebut sebanyak 70 juta orang di Asia Tenggara telah menjadi konsumen digital sejak awal pandemi berlangsung. Hampir separuh dari mereka, atau sekitar 30 juta orang, sudah menjadi konsumen digital dari 2020 hingga 2021. Pada 2026, populasi konsumen digital Asia Tenggara diperkirakan mencapai sekitar 380 juta, yang berarti 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada 2019.

    “Seiring dengan lebih banyak orang yang kini juga menikmati pengalaman digital dengan jumlah perangkat yang bertambah, gaya hidup baru konsumen kini mulai muncul--kebiasaan baru dalam berbelanja, cara baru untuk menemukan sesuatu, dan ekspektasi yang baru,” kata Benjamin.

    Dalam studi meta-analisis oleh Kantar dan Facebook, yang mengulas 64 kampanye multimedia di enam negara Asia Tenggara selama 2016-2020 juga telah menunjukkan bahwa saluran digital membantu bisnis menjangkau lebih banyak audiens (kesadaran). Kampanye multimedia, berdasarkan hasil studi itu, membantu memfasilitasi hubungan emosional dan menciptakan preferensi terhadap merek (asosiasi), dan mengubah audiens menjadi konsumen (motivasi).

    “Sehubungan dengan pandemi Covid-19, sebanyak 72 persen bisnis di Asia Tenggara menyatakan bahwa media sosial membantu mereka untuk berinteraksi lebih lebih baik dengan konsumen,” bunyi bagian dari studi yang sama.

    Pertanyaan utama yang perlu diperhatikan saat ini, menurut Benjamin, adalah bagaimana membuat produk atau layanan ditemukan dan bagaimana menyediakan pengalaman yang dipersonalisasi juga menghargai privasi pada saat bersamaan. Benjamin menyatakan akan mengajak para peserta pertemuan nanti untuk mendiskusikannya untuk dicari jawabnya dengan dengan sebuah sistem yang disebut Discovery Commerce.

    Facebook Summit yang ketiga juga menghadirkan Matt Idema, VP Business Messaging di Facebook yang akan berbagi tentang komitmen WhatsApp dalam mendukung bisnis kecil dan mikro melalui inovasi produk seperti WhatsApp Storefront. Fitur baru ini akan memungkinkan bisnis untuk memperoleh manfaat dari conversational commerce dan saat ini sudah mulai tersedia di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

    Selain itu, akan hadir di antara pembicara adalah Sudarshan Saha, Managing Director, Mediacom Vietnam; Anisha Iyer, Chief Product Officer, OMG Thailand; dan Wahib Kazhim, Presiden Direktur Photostory Indonesia. Semua sesi yang ada di Facebook Summit ini tersedia secara gratis mulai Selasa, 28 September 2021, selama satu bulan kedepan dan dapat diakses melalui tautan https://fbsummitid.splashthat.com/. Setiap orang juga dapat memilih untuk menikmati sesi tersebut melalui Livestream, pustaka Facebook Watch Anytime, atau menyimaknya melalui podcast.

    Baca juga:
    Dari 6 Jadi 1.500 per Hari, Begini Covid-19 Melonjak di Singapura


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.