Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kasus Ferdy Sambo dan Teknik Deteksi Kebohongan Terbaru EyeDetect

image-gnews
Alat deteksi kebohongan EyeDetect yang dikembangkan Converus. Foto : Converus
Alat deteksi kebohongan EyeDetect yang dikembangkan Converus. Foto : Converus
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan ini ramai menjadi pembahasan dan pemberitaan mengenai kasus pembunuhan Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat. Tersangka tambahan bersemi setelah ada perubahan keterangan dari satu tersangka yang pertama. Semakin terkuak adanya kebohongan yang sempat dilakukan mantan Kepala Divisi Propam Polri Irjen Ferdy Sambo dan sebagian anggota polisi lainnya untuk menutupi bagaimana sebenarnya Brigadir J tewas. 

Teknik deteksi kebohongan sejatinya bisa membantu penyidikan mengungkap motif Irjen Ferdy Sambo cs dalam kasus itu. Teknik paling terkenal adalah penggunaan poligraf yang mendeteksi perubahan fisiologis dalam tubuh si terperiksa saat memberikan keterangannya yang tidak bisa diamati mata normal.

Tapi ada teknik baru yang dikembangkan di Amerika yakni EyeDetect. Cara ini dianggap lebih cepat, lebih murah, dengan tingkat akurasi yang kompetitif. 

EyeDetect melibatkan program komputer yang dapat menangkap dan menguraikan aktivitas mata hingga milidetik. Adapun berbohong membutuhkan lebih banyak usaha daripada mengatakan yang sebenarnya. Pelaku harus berpikir lebih keras, menyebabkan pupil membesar.

Semua itu akan terdeteksi secara mikroskopis dalam tes EyeDetect 15 menit yang dibuat Converus, perusahaan yang berbasis di Lehi, Utah, AS.

Untuk mendemonstrasikan bahwa EyeDetect berfungsi — dan untuk melobi dukungan untuk teknologi tersebut — Mickelsen, sang CEO,  telah memberikan ratusan dari apa yang dia sebut “tes angka” kepada influencer di pemerintah federal. Dia meminta peserta ujian untuk memilih nomor antara dua dan sembilan, menuliskannya dan tidak menunjukkannya kepada siapa pun. 

Kemudian dia menyalakan komputer dan program EyeDetect mengambil alih, mengajukan serangkaian pertanyaan. Jika nomor yang dipilih adalah, katakanlah, empat, setiap kali pertanyaan menanyakan apakah angka itu yang ditulis, responden harus berbohong; sedang untuk pertanyaan tentang setiap nomor lainnya, peserta bisa mengatakan yang sebenarnya.

Hasilnya, EyeDetect memprediksi nomor tersembunyi dengan tingkat keberhasilan di atas 90 persen.

Dari Poligraf ke EyeDetect

Teknologi di balik EyeDetect dapat ditelusuri kembali ke profesor psikologi Universitas Utah, John Kircher dan David Raskin. Keduanya yang secara universal dianggap sebagai dua ahli di dunia dalam deteksi kebohongan. Mereka pula yang pada 1991 menciptakan poligraf terkomputerisasi, peningkatan signifikan pertama pada mesin poligraf asli yang ditemukan pada 1921.

Tapi ujian poligraf, melalui komputer atau lainnya, sangat berat, membutuhkan kabel dan manset tekanan darah dan setidaknya 90 menit untuk tes. Pada 2001, ketika revolusi teknologi sedang berlangsung, kedua Ph.D. itu berpikir untuk menemukan sesuatu yang dapat mendeteksi kebohongan lebih cepat dan dengan lebih sedikit masalah – sesuatu yang berbasis komputer.

Deteksi kebohongan atau Poligraf. shutterstock.com

Upaya mereka mengarahkan kepada kolaborasi dengan Anne Cook, kolega di Universitas Utah. Cook menggunakan mesin pelacak mata untuk eksperimen apa yang bisa diceritakan mata tentang hal-hal seperti memori dan pemahaman bacaan.

Dua profesor Universitas Utah yang lain kemudian bergabung. Mereka adalah Douglas Hacker dan Dan Woltz. Dan setelah satu dekade meriset, mereka berlima pun menemukan cara yang lebih murah dan lebih cepat untuk mendeteksi kebohongan dengan mengukur perubahan kognitif melalui mata. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada 2013, sekelompok investor memperoleh hak atas teknologi dari universitas, memboyong kelima profesor sebagai tim sainsnya, dan memulai perusahaan mereka: Converus. Perusahaan ini yang kemudian membagikan terobosan deteksi kebohongan ini kepada dunia.

Pada 2017, Converus merilis IdentityDetect, teknologi penilaian kredibilitas tambahan yang inovatif. Tahun lalu, mereka merilis poligraf otomatis pertama di dunia—EyeDetect+. Tahun ini, alat dan metode Converus itu dapat ditemukan di 60 negara, dengan lebih dari 600 pengguna, mulai dari departemen kepolisian hingga klinik terapi, bank, firma hukum, hingga sejumlah lembaga pemerintah.

Bukan hanya untuk penyidikan

Di AS, Converus memiliki kontrak dengan sekitar 75 institusi penegak hukum. Sepuluh berada di Utah, di antaranya kantor sheriff.

Selain pengusutan kasus, EyeDetect dimanfaatkan untuk menyaring rekrutan baru. Menurut Mickelsen, rata-rata 32 persen calon polisi yang melalui perangkatnya pada akhirnya gagal. Sebanyak 85 persen dari yang gagal itu karena mereka tidak jujur tentang penggunaan obat-obatan terlarang di masa lalu.

Karena undang-undang privasi yang ketat di AS, Converus melakukan sebagian besar bisnisnya di wilayah selatan perbatasan Amerika, di negara-negara di mana korupsi adalah bagian yang lebih besar dan budaya dan pengekangan hukum tidak begitu ketat.

Mickelsen mengutip contoh Acceso Credito, lembaga pemberi pinjaman Peru yang terutama menangani kredit mobil. Karena tidak ada biro kredit di Peru, cara Acceso Credito memeriksa calon pelanggan adalah dengan pergi ke rumah mereka, menghubungi majikan mereka, dan melakukan wawancara pribadi untuk menentukan apakah mereka memiliki risiko yang baik untuk mendapatkan pinjaman — upaya melelahkan yang memakan waktu berminggu-minggu.

Perusahaan menghilangkan proses pemeriksaan yang panjang ini dengan menempatkan laptop EyeDetect di 50 dealer mobil yang berbisnis dengannya, yang mengharuskan siapa pun yang mengajukan kredit untuk terlebih dahulu melakukan tes mata selama 15 menit.

Kritik lebih memilih Poligraf

Tapi, ada juga kekhawatiran penyalahgunaan khusus dengan EyeDetect. Tanpa elemen manusia, bias hasil mungkin berkurang tapi perangkat juga bisa sengaja disetel pada tingkat algoritma yang akan membuat sulit untuk lulus. Pada poligraf setidaknya ada transkrip percakapan manusia.

Levenson dari Loyola Marymount menyatakan pesimistis terhadap berbagai alat bantu tersebut. “Pengungkapan kebenaran harus ditentukan oleh orang, bukan mesin,” katanya.

DESERET, WASHINGTON POST

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Istilah Malingering Mencuat Saat Pemeriksaan Putri Candrawathi dalam Kasus Pembunuhan Brigadir J

6 hari lalu

Timsus menemukan fakta bahwa Yosua tak terlibat tembak menembak, melainkan ditembak oleh Bharada E atas perintah Ferdy Sambo. Bharada E juga menyatakan Ferdy menuntaskan eksekusi itu dengan melepaskan dua tembakan ke kepala Yosua. Polisi pun akhirnya menyatakan tak ada pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J terhadap Putri. Foto : Tiktok
Istilah Malingering Mencuat Saat Pemeriksaan Putri Candrawathi dalam Kasus Pembunuhan Brigadir J

Istilah malingering pernah mengemuka saat pemeriksaan Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo dalam kasus Pembunuhan Brigadir J. Ini artinya.


Dua Tahun Pembunuhan Brigadir J: Ini Peran Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer, Kuat Ma'ruf, dan Ricky Rizal

6 hari lalu

Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi
Dua Tahun Pembunuhan Brigadir J: Ini Peran Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer, Kuat Ma'ruf, dan Ricky Rizal

Hari ini tepat dua tahun pembunuhan Brigadir J oleh Ferdy Sambo Cs. Apa peran Putri Candrawathi, Richard Eliezer, Kuat Ma'ruf, dan Ricky Rizal.


Kilas Balik Vonis Ferdy Sambo sebagai Otak Pembunuhan Brigadir Yosua, Hukuman Mati Jadi Penjara Seumur Hidup

6 hari lalu

Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi melakukan adegan rekonstruksi pembunuhan Brigadir J di rumah dinas di Jalan Duren Tiga Barat, Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2022. Pasangan suami istri yang kini ditetapkan sebagai tersangka itu akhirnya bertemu dan menjalani adegan rekonstruksi pembunuhan Brigadir J. TEMPO/Febri Angga Palguna
Kilas Balik Vonis Ferdy Sambo sebagai Otak Pembunuhan Brigadir Yosua, Hukuman Mati Jadi Penjara Seumur Hidup

Ferdy Sambo yang menjadi otak pembunuhan Brigadir J pada 2022 sempat dijatuhkan hukuman mati. Lalu, menjadi hukuman penjara seumur hidup.


2 Tahun Lalu Gempar Pembunuhan Brigadir Yosua di Tangan Atasannya, Motif Ferdy Sambo dan Gerombolannya

6 hari lalu

Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J tewas setelah ditembak pada 8 Juli 2022. Rekannya, Bharada Richard Eliezer merupakan eksekutor pembunuhan Brigadir J. Namun, setelah Richard memutuskan sebagai justice collabolator, terungkap bahwa bos mereka, Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo merupakan otak di balik pembunuhan berencana tersebut. Ferdy Sambo pun akhirnya divonis hukuman mati, sedangkan Richard divonis 1,5 tahun penjara. Foto: Istimewa
2 Tahun Lalu Gempar Pembunuhan Brigadir Yosua di Tangan Atasannya, Motif Ferdy Sambo dan Gerombolannya

Hari ini, genap dua tahun Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat tewas di tangan atasannya, Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.


Apa saja Jenis Tindakan yang Bisa Disebut Obstruction of Justice?

23 hari lalu

Palu Hakim. [www.ghanaweb.com]
Apa saja Jenis Tindakan yang Bisa Disebut Obstruction of Justice?

Istilah obstruction of justice pun sering disebutkan dalam beberapa kasus pidana serupa. Seperti, pada kasus korupsi tol MBZ, kasus Brigadir J. Hakim.


Kilas Kesaksian ART Ferdy Sambo Soal 8 CCTV Mati di Persidangan 2 Tahun Lalu Bongkar Misteri

29 hari lalu

Tangkapan layar rekaman CCTV pos satpam yang ditampilkan jaksa penuntut umum ketika Ferdy Sambo (depan) dikawal ajudannya Adzan Romer tiba di rumah dinasnya sebelum membunuh Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, 8 Juli 2022, ketika diputar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 29 November 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]
Kilas Kesaksian ART Ferdy Sambo Soal 8 CCTV Mati di Persidangan 2 Tahun Lalu Bongkar Misteri

Asisten rumah tangga (ART) Ferdy Sambo, Daryanto alias Kodir menyebut 8 CCTV di dalam rumah dinas tersebut mati sejak 15 Juni 2022.


Anak Ferdy Sambo Ulang Tahun, Putri Candrawathi Kirim Kado dari Balik Penjara

36 hari lalu

Putri Candrawathi, terpidana kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, menjalani medical checkup di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu, 23 Agustus 2023 [istimewa]
Anak Ferdy Sambo Ulang Tahun, Putri Candrawathi Kirim Kado dari Balik Penjara

Setelah menjadi penghuni tetap Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Tangerang, Putri Candrawathi rajin mengikuti bimbingan kerja.


Top Hukum: Densus 88 'Posko Cipete' yang Kuntit Jampidsus Diduga Terafiliasi Satgassus Merah Putih, Lokasi Posko Cipete, dan Rekam Jejak Kombes Muhammad Tedjo

39 hari lalu

Jampidsus vs Densus 88
Top Hukum: Densus 88 'Posko Cipete' yang Kuntit Jampidsus Diduga Terafiliasi Satgassus Merah Putih, Lokasi Posko Cipete, dan Rekam Jejak Kombes Muhammad Tedjo

Densus 88 yang menguntit Jampidsus Kejagung diduga terafiliasi dengan Satgassus Merah Putih menjadi berita hukum yang banyak dibaca.


Febri Diansyah Saksi Sidang Syahrul Yasin Limpo, Pernah Jadi Kuasa Hukum Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo

40 hari lalu

Kuasa Hukum tersangka Putri Candrawathi, Febri Diansyah memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu, 28 September 2022. Febri mengatakan diminta bergabung di tim kuasa hukum perkara tersebut sejak beberapa minggu lalu. Setelah mempelajari perkaranya dan bertemu dengan Putri Candrawathi, ia menyampaikan akan mendampingi secara objektif jika bergabung di tim kuasa hukum Putri. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Febri Diansyah Saksi Sidang Syahrul Yasin Limpo, Pernah Jadi Kuasa Hukum Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo

Eks Juru Bicara KPK Febri Diansyah pernah bergabung menjadi pembela tersangka pembunuhan Brigadir J, ialah Ferdy Sambo dan istrinya Putri Candrawathi.


Densus 88 'Posko Cipete' yang Kuntit Jampidsus Diduga Terafiliasi Tim Satgassus Merah Putih Ferdy Sambo

40 hari lalu

Jampidsus vs Densus 88
Densus 88 'Posko Cipete' yang Kuntit Jampidsus Diduga Terafiliasi Tim Satgassus Merah Putih Ferdy Sambo

Densus 88 Wilayah Jawa Tengah yang membuntuti Jampidsus diduga berkaitan dengan Satgassus Merah Putih