Adu Tipis Acer Timeline dan HP Pavilion DV2  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Acer

    Acer

    TEMPO Interaktif, Jakarta:.Satu hari dua pertunjukan. Begitulah yang terjadi pada Kamis lalu, saat Hewlett-Packard (HP) dan Acer meluncurkan laptop terbaru jagoannya masing-masing di Jakarta.

    Pertunjukan pertama terjadi di Djakarta Theatre, lengkap dengan secuplik tarian balet. HP meluncurkan Pavilion DV2, notebook berlayar 12 inci yang ramping dan ringan.

    Pertunjukan kedua terjadi di Hotel Mulia, satu jam kemudian. Dengan sebuah simbolisasi perjalanan waktu, Acer meluncurkan notebook Aspire Timeline, yang berlayar 13 dan 14 inci, namun ramping serta ringan.

    Menariknya, kedua pendatang baru itu ternyata disodorkan ke segmen yang "rada mirip", yaitu segmen baru notebook di pasar Indonesia. Segmen baru itu adalah segmen antara.

    Pavilion DV2 dan Timeline akan menjadi pilihan baru, antara notebook mini--atau biasa disebut netbook--dan mainstream notebook. Ia seperti menggabungkan unsur terbaik dari netbook dan notebook.

    Artinya, notebook baru itu ringan dan ringkas sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Tapi selaku notebook tipis dan ringan, performanya sama dengan mainstream notebook.

    Meski berada di segmen yang rada-rada mirip, Pavilion DV2 dan Timeline ternyata berada di dua kutub yang berbeda.

    Dalam hal prosesor, misalnya, DV2 mengandalkan prosesor Athlon Neo buatan AMD, sedangkan Timeline sudah memakai platform terbaru dari Intel, Montevina Plus.

    Athlon Neo adalah prosesor yang diklaim hemat energi. AMD juga menambahkan kartu grafis ATI Radeon X1250 terintegrasi dan ATI Mobility Radeon HD 3410. Ini artinya, Pavilion menjadi perangkat yang mampu menampilkan kualitas grafis yang mumpuni di layar 12 incinya.

    Desain Pavilion DV2 juga bergaya betul. Tersedia pilihan warna hitam dan putih yang glossy pada tubuh yang dibungkus material magnesium.

    Hard disk drive dilindungi dengan teknologi ProtectSmart Hard Drive Protection. Notebook ini akan dijual dengan rentang harga US$ 699 sampai US$ 799.

    Adapun Timeline, yang dibanderol mulai US$ 760, mengandalkan Montevina Plus, yang dilengkapi dengan teknologi ultra low voltage pada prosesor Intel Centrino Solo. Akibatnya, baterai notebook ini mampu beroperasi sampai delapan jam.

    "Platform ini akan menghasilkan daya baterai yang tahan lama, koneksi nirkabel pita lebar, form factor kecil, dan layar lebih bening namun hemat listrik," kata Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel Indonesia, beberapa hari sebelum peluncuran produk tersebut.

    Salah satu hal yang menarik pada Timeline adalah pendinginan yang menggunakan teknologi Laminar Wall Jet dari Intel. Teknologi yang mirip dengan mesin pesawat terbang ini membuat komputer lebih dingin daripada kebanyakan notebook di pasaran, khususnya saat disambungkan ke sumber listrik.

    Di samping perbedaan-perbedaan tersebut, Pavilion dan Timeline juga memiliki beberapa persamaan. Keduanya sama-sama memakai sistem operasi Windows Vista, berkapasitas hard disk sampai 500 gigabita, dan mendukung WWAN untuk koneksi nirkabel pita lebar.

    Form factor keduanya mirip. Kedua notebook ini sama-sama menawarkan komputer yang tebalnya tak sampai 1 inci dan bobotnya tak sampai 2 kilogram. Keduanya, kecuali Timeline yang 14 inci, sama-sama tak memiliki optik disc drive.

    Begitulah sekelumit tawaran Timeline dan Pavilion yang ditawarkan ke pasar. Kedua perusahaan belum bisa mematok target penjualan lantaran segmen yang dibidik pun terbilang baru. "Kalau bisa memang sebanyak-banyaknya," kata Primawan Badri, Product Manager Consumer Notebook HP Indonesia.

    DEDDY SINAGA


    BOOKMARK

    Ultra Low Voltage: adalah teknologi Intel yang membuat prosesor diperkecil ukurannya sampai 58 persen sehingga memungkinkan terciptanya notebook yang lebih tipis dan ringan. Teknologi ini sebelumnya sudah ada sejak zaman Pentium III.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?