Lapan Gelar Seminar Nasional Soal Iklim dan Kekeringan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO InteraktifBANDUNG - Lapan menggelar seminar nasional bertajuk Proyeksi Iklim dan Kualitas Udara 2010-2014 di kantornya di Bandung. "Kita tahu setiap 4 tahun terjadi kekeringan yang panjang di Indonesia," kata Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Bambang S Tejakusuma saat membukanya,  Selasa (28/7).

    Dia mengatakan, sejumlah kekeringan panjang tercatat sempat terjadi sejak 1991, 1994, 1997, 1998, dan 2002. Namun, sejak itu belum pernah terjadi kekeringan sehebat yang terjadi pada 1997 lalu.

    Menurutnya, prediksi perubahan iklim pada lima tahun ke depan dibutuhkan oleh pemerintahan yang akan terbentuk nanti. Hasil seminar, akan menjadi referensi prediksi iklim nanti.

    Seminar ini berlangsung 2 hari dan dibagi dalam 4 topik bahasan. Soal proyeksi iklim, proyeksi kualitas udara, kajian iklim serta prediksinya. Juga kajian kualitas udara termasuk prediksinya. Pembicaranya selain peneliti Lapan, juga berasal dari Bappenas, BMKG, ITB, UI, sera Unhas.

    Dalam satu sesinya, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Edi Effendi Tedjakusuma mengatakan, pemerintah sudah merespon isu perubahan iklim. Dia mencontohkan, isu el nino sempat menjadi bahasan dalam sidang kabinet yang dipimpin langsung oleh wakil presiden. "Pengambil kebijakan sudah sangat mengerti soal itu," katanya.

    Dia mengatakan, pemerintah sudah menyusun prioritas nasional mengenai antisipasi perubahan iklim termasuk strategi pendanaannya. Prioritas itu dicantumkan dalam Rencana Kerja Pemerintah.

    Khusus soal pendanaannya, pemerintah memprioritaskan dari dana grant (bantuan asing) serta debt swap (penghapusan hutang luar negeri). "Loan berada di prioritas terakhir, ini digunakan kalau benar-benar dibutuhkan," katanya.

    AHMAD FIKRI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.