Sensor Kebusukan Ikan dari Bogor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +

  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Hampir semua ibu rumah tangga mengetahui rumus memilih ikan segar. Dari memeriksa apakah mata ikan itu bening dan menonjol, tidak keruh, kulitnya cerah, sampai insang yang masih merah dan tidak berbau.
    Namun, rumus itu tentu tak bisa dipraktekkan ikan yang hendak dibeli itu sudah dikemas rapi dalam wadah yang tertutup rapat seperti yang dijual di pasar swalayan, apalagi bila ikan sudah berbentuk fillet atau irisan ikan tanpa tulang. Jangankan mata dan insang, kulitnya pun terkadang sudah tidak ada karena yang tersisa hanyalah irisan daging ikan berwarna kemerahan.
    Nah, kemasan cerdas buatan Yogi Waldingga Hasnedi bisa mempermudah tugas para ibu memilih fillet ikan berkualitas baik di pasar swalayan. Mahasiswa tingkat akhir di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) itu membuat kemasan cerdas yang dilengkapi sensor pendeteksi kebusukan ikan.
    Sensor berupa plastik film yang dilekatkan di plastik pembungkus fillet ikan itu akan berubah warna bila daging membusuk. "Ini praktis, konsumen bisa langsung mengetahui apakah daging ikan dalam kemasan itu masih layak dikonsumsi atau sudah membusuk tanpa perlu membuka plastik," kata Yogi di Jakarta, Selasa lalu.
    Berkat karyanya tersebut, pemuda kelahiran Jakarta, 31 Juli 1986 itu meraih juara pertama bidang teknik dalam Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-8 di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa lalu. Dalam kegiatan yang diadakan oleh LIPI dan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 itu, Yogi mengajukan karya ilmiah berjudul "Pengembangan Kemasan Cerdas dengan Sensor Berbahan Dasar Chitosan-Asetat, Polivinil Alkohol, dan Indikator Bromthymol Blue sebagai Pendeteksi Kebusukan Fillet Ikan Nila."
    "Target penggunaannya di supermarket, terutama produk perikanan tanpa tulang (fillet)," ujarnya. "Di luar negeri, smart packaging umumnya untuk produk ikan laut, pada ikan air tawar belum pernah dicoba, jadi saya mencoba membuatnya."
    Label sensor yang terbuat dari campuran ketiga bahan kimia dan pewarna indikator itu bekerja dengan menangkap gas nitrogen yang diproduksi bakteri daging ikan ketika membusuk. Ketika label sensor terkena gas tersebut, warnanya akan berubah dari kuning cerah menjadi hijau kebiruan. Perubahan itu terjadi karena pewarna Bromthymol Blue bereaksi ketika kondisi lingkungan berubah dari asam menjadi basa.
    Eksperimen untuk membuat sensor kemasan cerdas sebagai bahan skripsi ini diselesaikan Yogi dalam waktu lumayan singkat, hanya lima bulan. "Justru yang sulit menyesuaikan tiga bahan itu, terutama pewarna indikatornya," katanya.
    Dalam riset yang dilakukannya, Yogi belum mencoba keefektifan sensor itu pada kemasan ikan yang telah dibekukan dengan temperatur 5-6 derajat Celsius. Meski baru dicoba pada suhu ruangan, sensor itu terbukti dapat mendeteksi kebusukan ikan. "Selama 15 jam pengamatan terjadi perubahan warna, mulai kuning, kuning tua, hijau muda, hijau, sampai hijau kebiruan," kata Yogi. "Kalau sudah hijau tua, berarti fillet ikan nila itu sudah busuk dan tidak layak dikonsumsi."
    Penerima beasiswa dari Korean Exchange Bank pada 2008 itu menuturkan bahwa kemasan cerdas produk perikanan itu tergolong baru di Indonesia, tetapi di Eropa sensor semacam itu sudah dikomersialkan. Bahkan, tak cuma digunakan pada produk perikanan, kemasan cerdas sebenarnya juga bisa diterapkan pada produk pertanian dan peternakan seperti kemasan sayur dan minuman.
    Yogi mengatakan label sensor ini tidak berbahaya karena tidak bersentuhan dengan ikan sehingga tidak menyebabkan terjadinya kontaminasi. Plastik film yang digunakan sebagai sensor juga bersifat biodegradable. Lapisan berdiameter 1,5 sentimeter itu mudah hancur dan lumer bila terkena air sehingga lebih ramah lingkungan.
    Mahasiswa tingkat akhir yang kini tinggal menunggu hari wisuda itu mengungkapkan rencananya untuk menyempurnakan sensor kemasan cerdas itu dengan mengujinya pada jenis ikan lain dan temperatur rendah. Dia juga berharap dapat mencetak plastik film di atas plastik polimer PET bukan lagi di atas kaca preparat seperti yang dikerjakannya sekarang. "Masih pilot project, perlu pengembangan lagi. Tapi, kalau ikan air tawar bisa, pasti ikan laut juga bisa karena ikan laut lebih gampang busuk daripada ikan air tawar," kata Yogi.
    Pemuda yang pernah meraih juara Setara Emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) pada 2007 itu kini tengah mencari-cari perguruan tinggi yang tepat untuk meneruskan studi tingkat master untuk bidang teknologi hasil pertanian tersebut. "Memang sudah ada tawaran dari salah satu kampus di Malaysia, tapi saya masih menimbang-nimbang inginnya di Indonesia saja, tapi di Indonesia belum ada yang nawarin," ujarnya.
    TJANDRA DEWI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.