Ruckus Perdalam Pasar Wi-Fi di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Vendor teknologi Wi-Fi asal Amerika Serikat, Ruckus, mulai memperdalam penetrasi pasarnya di Indonesia. Ruckus mengandalkan teknologi Smart Wi-Fi untuk memikat operator yang baru tumbuh dan kalangan usahawan. 

    Vice President Product Management Business Development Ruckus, Bart Burstein, mengatakan saat ini Ruckus mulai membidik pasar di luar kota besar untuk layanan akses broadband nirkabel. Dengan produk barunya ini memungkinkan penggunaan akses broadband dengan biaya yang lebih murah, untuk pengurangan hingga lima persen dan penghematan biaya kapasitas hingga 30 kali lipat. 

    "Prinsip yang kami tawarkan adalah dengan biaya yang rendah," ujar Burstein dalam presentasinya di Jakarta, pada hari ini.

    Ruckus membidik pasar operator, terutama operator yang berkembang, perorangan, maupun usaha kecil menengah serta kalangan industri properti. Dia juga mengakui Indonesia merupakan pasar yang menarik, tak hanya di Jakarta yang mempunyai banyak perkantoran dan apartemen. Tetapi kota-kota lain di luar Jawa yang sedang berkembang. Saat ini produk Ruckus banyak digunakan oleh perhotelan, gedung perkantoran, dan institusi pendidikan. 

    Burstein mengatakan teknologi Smart Wi-fi mempunyai keunggulan jangkauan di dalam dan di luar ruangan. Sedangkan jangkauan di luar ruangan maksimal bisa menjangkau hingga 12 kilometer dengan kekuatan 60 Mbps. Dia pun memberikan contoh gedung Tikona di India, beberapa bangunan yang terdiri dari 3.000 apartemen terjangkau dengan 15 akses poin wi-fi Ruckus di atap. 

    Solusi yang ditawarkan dari produk baru ini yakni meliputi mesh atau jaring-jaring, poin akses luar ruangan, peralatan yang dipasang di lokasi pengguna, lini produk baru Smart Wi-fi backhoaul sistem dan pengelolaan seluruh sistem jarak jauh. Ruckus memadukan teknologi 802.11n dengan kecepatan tinggi dan dynamic beamforming untuk mengatasi interferensi. Investasi untuk produk Ruckus ini dibandrol US$ 2.900 dan diklaim lebih murah dibanding teknologi kompetitor. 

    Namun dia mengakui teknologi ini mempunyai kelemahan dalam mengatasi gangguan cuaca. "Hujan yang sangat berat masih menjadi masalah." ujarnya. 

    Dia juga mengatakan penggunaan wi-fi ini cukup andal untuk penghantaran data dan ponsel pintar. Teknologi ini menurutnya juga lebih murah 10 kali lipat dibanding HSPA+. Menurutnya HSPA ini lebih bagus untuk pengantaran suara. Wi-fi juga menjadi teknologi transisi untuk menjembatani peralihan teknologi dari 3G menuju 4G. "Sebagai pelengkap dan sarana transisi bagi operator," ujarnya. 

    Dian Yuliastuti

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?