Antisipasi Banjir, ITS Bikin Perahu Ringan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah undangan melihat peluncuran kapal kayu Yole de Bantry generasi ke-4 yang dinamai Baitasena di atas KRI Makassar, Dermaga Ujung, Komando Armada Timur, Surabaya, Senin (20/1). TEMPO/Fully Syafi

    Sejumlah undangan melihat peluncuran kapal kayu Yole de Bantry generasi ke-4 yang dinamai Baitasena di atas KRI Makassar, Dermaga Ujung, Komando Armada Timur, Surabaya, Senin (20/1). TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya- Mahasiswa dan dosen Jurusan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat inovasi perahu penyelamat (rescue boat). 'Kapal Nuh' versi ITS itu dirancang untuk menyelamatkan korban di daerah rawan bencana banjir seperti kawasan Bengawan Solo. "Bahannya dari plastik, didesain bersarat rendah agar cocok digunakan dalam proses evakuasi korban banjir," tutur penggagas perahu tersebut, Wasis Dwi Aryawan, melalui rilisnya, Selasa, 28 Oktober 2014.

    Dosen Teknik Perkapalan itu menjelaskan, dalam mengembangkan ide ini ITS bekerjasama dengan perusahaan swasta CV Pionir Mandiri Jaya. Perahu ini memiliki ukuran panjang 2,3 meter, lebar 1,5 meter, tinggi 0,8 meter, dan sarat 0,25 meter. Prototipe tersebut telah diuji stabilitasnya di Laboratorium Hidrodinamika Jurusan Teknik Perkapalan FTK ITS. "Kapasitas angkut mencapai delapan orang, tanpa perlu khawatir kandas," kata Wasis.

    Kapal ini dibuat dengan desain lambung ganda (double hull). Sehingga, rescue boat masih bisa mengapung jika terjadi benturan yang menyebabkan sobeknya lambung luar. Untuk meningkatkan kekuatan kapal terhadap benturan maka dilakukan pengisian busa pada lambung ganda. (Baca juga: ITS Luncurkan Kapal Kayu 'Baita Sena')

    Wasis menambahkan, karya tersebut sangat aman. Bahan plastik yang ringan dan berbentuk seperti kotak menambah keamanan pada perahu. Kapal yang dia bikin bersama anak-anak didiknya itu juga diklaim lebih murah dibandingkan dengan rescue boat biasa. "Bahkan menghemat ongkos sampai 25 persen."

    Keuntungan lain, perahu bisa didaur ulang secara terus menerus. "Sangat berbeda jauh dengan perahu yang menggunakan bahan fiber glass, meski ringan tapi bahan tersebut hanya untuk sekali pakai," kata dia. Pembuatan cetakannya sendiri bisa menghabiskan waktu selama seminggu. Namun setelah cetakannya jadi, ia dan tim bisa memproduksi enam buah kapal per hari.

    Perahu buatan kampus ITS ini sudah dikirim ke Bojonegoro untuk mengantisipasi luapan Bengawan Solo. "Sudah kami kirim beberapa ke Bojonegoro, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar," ujarnya. (Baca yang lain: Mobil Mini ITS Juara di Australia)

    ARTIKA RACHMI FARMITA

    Terpopuler:
    Smartfren Luncurkan Seri Terakhir Keluarga G
    Cina Luncurkan Misi Ulang-Alik Pertama ke Bulan
    Mau Pizza, Tekan Tumit Tiga Kali
    Smartfren Siapkan Ponsel Android Lollipop di 2015 
    Polisi Dubai Dilengkapi Google Glass  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.