Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Aplikasi dari Pontianak Jadi Solusi Digital untuk Masalah Sampah

image-gnews
Mahasiswa Pontianak, Kalimantan Barat ini membuat aplikasi untuk mengatasi masalah sampah di kotanya.
Mahasiswa Pontianak, Kalimantan Barat ini membuat aplikasi untuk mengatasi masalah sampah di kotanya.
Iklan

TEMPO.CO, Pontianak  - Jangan buang sebuah gagasan ke tong sampah, meskipun ditolak Kementerian Riset dan Teknologi. Hafiz Waliyuddin membuktikan jika sudah punya gagasan, ihwal mewujudkannya tinggal soal kerja keras dan mengintip peluang. Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Tanjungpura Pontianak ini mematahkan penilaian juri Program Kreativitas Mahasiswa Kementerian Riset yang menganggap idenya mengelola sampah sulit diwujudkan.

Tak kapok dengan penolakan itu, Hafiz menjajakan karya tulis soal sampah ini ke pelbagai lomba sejak 2014. Rupanya juri-juri itu juga sama saja menganggap ide mahasiswa angkatan 2012 ini terlalu mustahil. Frustrasi dua tahun tak pernah lolos pelbagai ajang, Hafiz membangun sendiri aplikasi sebagai perwujudan idenya itu.

Gagasannya adalah mempertemukan pemulung sampah dengan rumah tangga yang memproduksinya. Di Pontianak, pemerintah daerah tak punya tenaga kerja yang mengambil sampah dari perumahan. Pemerintah Kota hanya menyediakan gerobak motor roda tiga di kelurahan untuk mengangkut sampah ke tempat pembuangan sementara. Tapi gerobak-gerobak itu acap tak terpakai karena tak ada yang mengoperasikannya.

Masyarakat tetap harus membuang sampahnya setiap hari ke TPS. Padahal jadwal membuang sampah hanya pukul 6 pagi dan 6 sore. Orang Pontianak yang sibuk tak sempat membuang sampah pada jadwal itu. Akhirnya, TPS-TPS banyak yang lowong dan orang membuang sampah ke sungai juga atau TPS ilegal.

Ibu Kota Kalimantan Barat ini tengah berkembang. Kota ini seperti Jakarta. Saat jam pulang kerja jalan-jalan utama macet dipenuhi mobil dan sepeda motor. Mal dan hotel tumbuh di pelbagai sudut. Nama-nama merek jajanan di Jakarta hampir semua ada di Pontianak. Warung UpNormal, yang mengangkat derajat warkop Indomie setara kafe, baru buka di sini dan selalu penuh. Kedai-kedai membanjir, terutama warung kopi yang dipenuhi anak muda. Meski Pontianak bukan daerah penghasil kopi, orang Pontinak nongkrong hingga larut setiap malam di kedai-kedai itu.

Di Aming Coffee di Jalan Haji Abbas, orang mesti antre menunggu meja kosong karena kedai di dua bangunan yang berseberangan itu tak satu pun menyisakan bangku lowong. Ada lebih 50 meja, semuanya dipenuhi orang yang menyeruput kopi. Satu meja rata-rata diisi 5-6 orang, bergemuruh mengobrol dan tertawa. Saya yang berkunjung ke Aming pada Kamis, 3 Mei 2018, bersama lima teman memesan kopi dan penganan seharga Rp 200 ribu.

Aming laris, meski tak punya tempat parkir yang luas, terutama setelah pengelolanya menyediakan koneksi Internet gratis dan colokan listrik. Kedai kopi sejak 1970 ini mengikuti perkembangan zaman ketika setiap orang punya telepon pintar yang cemas kehabisan baterai dan butuh koneksi tak terbatas. Maka lengkap sudah hidup kita di sana: malam, teman, obrolan, kopi, koneksi, dan listrik. Hidup generasi milenial dan nonmilenial sempurna dengan sandang, pangan, dan colokan.

Petugas PPSU membersihkan sampah yang menumpuk di bawah jembatan Jati Baru kali Cideng, Jakarta Pusat, 2 Mei 2018. Petugas PPSU setiap hari beranggotakan 8 orang hanya bisa mengangkut sampah sekitar 4-6 kubik perhari. TEMPO/Muhammad Hidayat
Pertumbuhan ekonomi kota Pontianak ini tentu mendorong pertumbuhan manusia yang mengakibatkan perkembangan kawasan untuk perumahan. Pada akhirnya, aktivitas kota yang sibuk itu melahirkan sampah. Kesibukan itu pula yang membuat 112 TPS jadi lowong karena orang malas membuang sampah pada jadwal yang ditetapkan pemerintah.

Catatan di TPA saja ada 350 ton sampah sehari dari 150.000 rumah. Artinya, tiap rumah buang sampah 2,3 kilogram sehari. Lalu sampah bisnis ke mana? Kafe yang buka 24 jam, hotel yang senantiasa mencorong, mal yang selalu penuh, ke mana mereka buang sampah? Rupanya angka-angka ini kurang mendapat perhatian pemerintah kota.

Pemerintah fokus membuat jalan dan infrastruktur untuk membangun Ibu Kota provinsi yang baru mekar ini. Melihat kapasitas TPS masih lowong mereka berencana menguranginya karena membuat kota jadi kumuh. Hafiz, yang membaca berita itu, kaget karena dalam kota yang sedang tumbuh, sampah akan jadi problem klasik yang ruwet dicarikan solusinya ketika sudah menumpuk. Ia terpikir menjembatani kemalasan orang buang sampah dengan kerja para pemulung yang ngider ke rumah-rumah.

Agar pemulung itu terdata dan mereka pasti mendapat sampah dari perumahan, Hafiz meniru cara kerja Go-Jek yang mempertemukan pengemudi dan penumpang melalui aplikasi di telepon seluler. Maka lahirlah Angkuts atau Angkutan Sampah. Diluncurkan pada 22 Mei 2016 oleh Wali Kota Pontianak yang sudah mendengar ide Hafiz sebelum aplikasi di Android itu jadi.

Wali Kota Sutarmidji mewajibkan semua instansi memakai Angkuts untuk membuang sampah. Karena fasilitas dan kemampuannya masih minim, aplikasi ini terseok-seok. Hafiz harus konsentrasi kuliah dan kurang modal. Ia menghabiskan Rp 15 juta untuk membangun aplikasi ini. Pelanggannya tak kunjung bertambah dari angka 400 dan pengguna aktif hanya 150 rumah sejak diluncurkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pemuda 23 tahun ini mengajak pemulung sebagai pengangkut sampah. Ia membekali mereka dengan gerobak motor beroda tiga. Tiap rumah membayar Rp 40 ribu sebulan yang ditransfer via bank ke rekening Angkuts. Setelah itu, mereka tinggal memencet aplikasi Angkuts di telepon seluler ketika akan membuang sampah, pemulung akan datang dengan gerobak itu. Hafiz membayar 10 pemulung tersebut Rp 2,5 juta per orang per bulan. “Sekarang tak perlu repot buang sampah sendiri,” kata Nova Sari, 31 tahun, penduduk Jalan Kebangkitan Nasional.

Anak-anak melewati jembatan dimana sampah terus menumpuk di muara Sungai Citarum di Kampung Cijagra, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 22 April 2018. TEMPO/Prima Mulia
Dalam sehari, para pemulung Angkuts membawa sekitar 100 ton sampah. Dari jumlah itu separuhnya dibuang ke TPA, separuhnya diolah untuk didaur ulang. Pemerintah Kota Pontianak punya beberapa mesin pengolah sampah yang menerima sampah anorganik dari Angkuts. “Saya pakai Angkuts hanya untuk sampah anorganik karena bisa dijual lagi,” kata Beny Thanheri, warga Pontianak Selatan.

Dengan perhitungan bisnis seperti itu, Hafiz masih “bakar uang” membangun start-up. Modal yang kecil membuat ia juga belum bisa menyatukan mata rantai bisnis mengolah sampah dari hulu hingga hilir. Ia ingin punya lahan dan mesin sendiri untuk mendaur ulang sampah organik dan bisa memproduksi barang bekas untuk dijual kembali. Untuk sementara barang bekas yang diolah pemulung dijual pembuatnya tanpa ia potong untuk biaya operasional.

Untunglah idenya didengar seorang pengusaha kapal Pontianak. Pengusaha itu mengucurkan modal Rp 3,2 miliar beberapa waktu lalu. “Lumayan bisa untuk nyambung hidup tujuh bulan ke depan,” kata Hafiz. Uang itu rencananya akan ia pakai mengembangkan aplikasi agar lebih kokoh, menyewa tanah untuk mengolah sampah, membeli mesin daur ulang, biaya operasional, dan marketing.

Angkuts menempati sebuah kantor di pusat kota dengan sepuluh karyawan: empat pengembang aplikasi, bagian administrasi, dan pemasaran. Dengan modal segar itu, Hafiz akan fokus menggarap pemasaran agar bisa menaikkan jumlah pelanggan rumah tangga hingga 50.000 tahun ini. “Target saya bisa bermitra dengan perusahaan dan memaksimalkan kerja sama dengan lembaga pemerintah,” kata dia.

Setelah ada Angkuts, jumlah sampah di TPA naik menjadi 400 ton sehari karena kelimpahan 50 ton yang dibuang melalui aplikasi. Dari data ini para pejabat di Pontianak jadi berpikir, produksi sampah di kota mereka sebenarnya mungkin lebih dari itu. Sampah yang tak sampai ke TPS mungkin dibuang ke sungai. “Kami akan mendorong masyarakat memakai Angkuts dan menyediakan TPS reduce, reuse, dan recycle,” kata Dadang Fitrajaya, Kepala Bidang Revitalisasi Lingkungan Kota Pontianak.

Kini Hafiz sedang menimbang, dengan modal tambahan yang lumayan itu, ia bisa memberi insentif melalui pemotongan harga kepada mereka yang terbiasa buang sampah ke sungai jika memakai aplikasi Angkuts. Juga kepada rumah tangga yang memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Jika sampah sudah terpisah sejak dari rumah, ongkos operasional Angkuts juga akan terpangkas.

Ide-ide brilian Hafiz ini sudah ia bagi dalam pelbagai forum bisnis anak muda. Ia bermimpi Angkuts bisa menjangkau ke luar Pontianak untuk menolong kota-kota yang punya problem dengan sampah. Dan keinginan itu melampaui harapannya sendiri. Bulan lalu, Duta Besar Amerika untuk Indonesia mengundangnya bersama lima pendiri start-up lain ke Washington, D.C akhir Juli nanti. Mereka akan tinggal di sana selama 20 hari dalam acara “Creative Economy and Entrepreneuship Incubators”.

Perjuangan Hafiz mendirikan Angkuts lumayan dibayar agak mahal karena ia jadi mahasiswa paling senior nyaris abadi di kampus. Universitas Tanjungpura menskornya dua semester karena, sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik, ia harus bertanggung jawab ketika ada mahasiswa yang menyelenggarakan kegiatan terlarang. Skripsinya tentang mengenalkan pariwisata Pontianak melalui teknologi virtual reality tak kelar-kelar.

Pemuda 23 tahun yang murah senyum ini hanya tertawa ketika disinggung soal tugas akhir itu. “Mudah-mudah tahun ini,” kata Hafiz. Semoga ia tak menyerah menyelesaikan kuliah, seperti ketika ia menolak menyerah kendati ide Angkuts ditolak Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi. 

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


BSI Gandeng Startup Optimalkan Akses Permodalan bagi UMKM

7 hari lalu

Pengguna mencoba aplikasi Mandiri Online Securities Trading (MOST) Syariah saat Grand Launching Pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Online Bank Syariah Pertama di  Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa 16 Januari 2024. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI berkolaborasi dengan PT Mandiri Sekuritas meluncurkan Layanan Investasi #SerbaSyariah. Nasabah pun kini bisa membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) secara daring melalui Mandiri Online Securities Trading (MOST) Syariah. Tempo/Tony Hartawan
BSI Gandeng Startup Optimalkan Akses Permodalan bagi UMKM

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) bekerja sama dengan startup Qasir.id mengoptimalkan akses permodalan pembiayaan 24 ribu UMKM.


Telkom Gelar Digiland Run 2024

10 hari lalu

VP Corporate Communication Telkom, Andri Herawan Sasoko (tengah) bersama Race Director D&Dsport, Dardityo
Telkom Gelar Digiland Run 2024

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali menggelar sebuah acara yang penuh semangat dan inovasi.


Apa Saja Layanan yang Ada di GovTech INA Digital yang Baru Diluncurkan Presiden Jokowi?

16 hari lalu

Presiden Joko Widodo meluncurkan platform digital untuk layanan publik terintegrasi INA Digital di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (27/5/2024). (ANTARA/Yashinta Difa)
Apa Saja Layanan yang Ada di GovTech INA Digital yang Baru Diluncurkan Presiden Jokowi?

INA Digital merupakan platform yang dirancang untuk menghimpun layanan pemerintah, terdapat sepuluh layanan utama.


Membangun Masa Depan Digital Inklusif, Ajang Teknologi Asia Tech x Singapore Digelar pada 29-31 Mei

19 hari lalu

Asia Tech x Singapore (ATxSG) (Facebook)
Membangun Masa Depan Digital Inklusif, Ajang Teknologi Asia Tech x Singapore Digelar pada 29-31 Mei

ATxSG edisi keempat ini akan menggerakkan wacana seputar isu-isu yang bersinggungan dengan teknologi, masyarakat, dan ekonomi digital.


Siapkah Pemerintah Sepenuhnya Terapkan SPBE? Ini Penjelasan Soal GovTech

20 hari lalu

Suasana kegiatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Summit 2024 dan meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin 27 Mei 2024. SPBE Summit 2024 merupakan agenda Kementerian PAN-RB yang bertujuan mendorong perkembangan layanan digital di setiap instansi pemerintah. TEMPO/Subekti.
Siapkah Pemerintah Sepenuhnya Terapkan SPBE? Ini Penjelasan Soal GovTech

Sistem pemerintahan berbasis elektronik atau SPBE yang terintegrasi sudah siap diluncurkan. Bagaimana faktanya? Apa pula GovTech?


11 Juta Serangan Hacker Terjadi di Indonesia 2022-2023, Simak Perbandingannya dengan Negara Tetangga

20 hari lalu

Ilustrasi Hacker atau Peretas. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
11 Juta Serangan Hacker Terjadi di Indonesia 2022-2023, Simak Perbandingannya dengan Negara Tetangga

Serangan hacker di Indonesia menurun pada 2023 dan melonjak di Filipina dan Singapura.


Mengenal GovTech yang Akan Diluncurkan Jokowi Hari Ini di Istana, Apa Fungsinya?

21 hari lalu

Presiden Jokowi memberi sambutan sebelum menyerahkan zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 13 Maret 2024. Penyerahan zakat ini juga diikuti oleh sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga tinggi negara, pimpinan lembaga negara, kepala daerah, direktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perwakilan perusahaan swasta, hingga tokoh publik. TEMPO/Subekti.
Mengenal GovTech yang Akan Diluncurkan Jokowi Hari Ini di Istana, Apa Fungsinya?

Jokowi dijadwalkan meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia di Istana Negara pada hari ini, Senin, 27 Mei 2024. Apa itu GovTech?


Terkini: Kilang Pertamina di Balikpapan Terbakar BBM Dipastikan Aman, Celios Kritisi Rencana Kenaikan Permanen HET Beras

21 hari lalu

04-terkaitHL-Kilang-Balikpapan
Terkini: Kilang Pertamina di Balikpapan Terbakar BBM Dipastikan Aman, Celios Kritisi Rencana Kenaikan Permanen HET Beras

Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Hermansyah Y Nasroen memastikan pasokan BBM aman, usai insiden kebakaran Sabtu pagi.


Luhut Sebut 25,2 Juta UMKM Sudah Masuk ke Ekosistem Digital di 2023

22 hari lalu

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan memberi sambutan saat acara penandatanganan dokumen transaksi pengambilalihan saham Divestasi PT Vale Indonesia Tbk. di Jakarta, Senin, 26 Februari 2024. TEMPO/Tony Hartawan
Luhut Sebut 25,2 Juta UMKM Sudah Masuk ke Ekosistem Digital di 2023

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, sebanyak 25,2 juta UMKM telah masuk (onboarding) ke ekosistem digital per 2023.


Platform Digital Fasilitasi Judi Online Diancam Denda Rp 500 Juta per Konten

24 hari lalu

Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi
Platform Digital Fasilitasi Judi Online Diancam Denda Rp 500 Juta per Konten

Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengatakan platform digital yang fasilitasi judi online akan didenda Rp 500 juta per konten.