Tanah Bergerak di Tangerang, Ini Saran PVMB Supaya Tak Meluas

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penambalan jalan retak akibat tanah bergerak di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Selasa 16 Oktober 2018. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    Suasana penambalan jalan retak akibat tanah bergerak di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Selasa 16 Oktober 2018. TEMPO/JONIANSYAH HARDJONO

    TEMPO.CO, Bandung - Fenomena tanah bergerak di Tangerang membuat warga panik. Kepala Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani mengatakan, untuk kasus tanah bergerak langkah yang bisa dilakukan agar tidak meluas dengan menutup retakan yang terbentuk.

    Baca juga: Tanah Bergerak di Tangerang, Warga Pagedangan Panik

    "Yang paling penting air tidak masuk," kata Kasbani saat dihubungi Tempo, Selasa, 16 Oktober 2018. PVMBG masih mempelajari kasus tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Secepatnya Kasbani akan mengirimkan rekomendasi teknis penangan fenomena tanah bergerak tersebut. "Tanggapannya sedang kami siapkan."

    Kasbani mengatakan, langkah pemda setempat untuk menutup tanah yang retak dengan melakukan pengaspalan boleh saja. Asalkan seluruh retakan yang terbentuk bisa tertutup. "Asal rata dan yang penting air dijaga tidak masuk ke rekahan," kata dia. Menurut dia, air yang merembes salah satu penyebab tanah bergerak. "Kemungkinan di situ tanah timbun, atau daerahnya melereng (miring)," ujarnya.

    Baca juga: Rumah Retak Akibat Tanah Bergerak di Pagedangan, Warga Mengungsi

    Dia memberikan beberapa saran agar retakan tidak meluas. "Pertama, rekahan tadi harus segera ditutup supaya tidak meluas. Dan tempat-tempat yang berpotensi longsor harus dijaga agar tidak terjadi longsor di situ," kata dia.

    Saat ditanya apakah ini disebabkan likuifaksi, dia menepis anggapan tersebut. "Enggaklah. Likuifaksi itu harus ada getaran. Tanahnya juga harus berpasir dan jenuh air. Kayaknya di situ (Pagedangan) enggak begitu," kata Kasbani.

    Sebelumnya, tanah bergerak di RT 04/RW 01, Kampung Kadu Sirung, Desa Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang telah merusak jalan dan rumah penduduk. Pengamatan Tempo di lokasi, Selasa siang, 16 Oktober 2018, retakan besar dan panjang terjadi di jalan lingkungan desa itu. Retakan sepanjang 50 meter itu memiliki lebar dan kedalaman bervariasi dari 0,5 meter hingga 1 meter.

    Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. FOTO Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang

    Baca juga: Fenomena Tanah Bergerak Terjadi di Tasikmalaya

    Tanah bergerak juga menyebabkan rumah seorang penduduk retak pada bagian dinding dan lantai. Retakan cukup parah terjadi di rumah Saeni, 40 tahun. "Dapur rumah saya rusak, saya takut nempatin rumah," kata Saeni, Selasa.

    Menurut Saeni, sejak semalam ia dan empat anggota keluarganya yang terdiri dari anak dan cucu mengungsi ke rumah sanak saudaranya, tak jauh dari rumahnya. Retakan akibat tanah bergerak di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. FOTO Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang.

    Ketua RT 04, Maryadi mengatakan sampai saat ini baru satu rumah penduduk yang terdata mengalami kerusakan akibat tanah bergerak ini. "Baru satu dan sudah kami laporkan ke pemerintah daerah," katanya.

    Tanah bergerak di desa Kabupaten Tangerang ini terjadi Senin petang sekitar pukul 16.30. Retakan pertama diketahui warga setelah hujan deras mendera kawasan itu.

    Baca juga: Begini Kronologi Fenomena Tanah Bergerak di Tangerang

    Simak kabar terbaru seputar fenomena tanah bergerak di Tangerang hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    AHMAD FIKRI | JONIANSYAH HARDJONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.