BMKG: Kekeringan Meteorologis Terpanjang Melanda 3 Kabupaten NTT

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sungai yang mengering saat musim kemarau di kawasan Kupang, 5 September 2015. Bencana kekeringan kini meluas mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT pada akhir Agustus lalu. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Suasana sungai yang mengering saat musim kemarau di kawasan Kupang, 5 September 2015. Bencana kekeringan kini meluas mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT pada akhir Agustus lalu. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Kupang - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan kekeringan meteorologis terpanjang melanda tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT).

    "Tiga kabupaten itu adalah Sumba Timur, Lembata dan Kabupaten Belu di wilayah yang berbatasan dengan negara Timor Leste," kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru kepada Antara di Kupang, Jumat, 2 Agustus 2019.

    "Dari hasil monitoring hari tanpa hujan berturut-turut dasarian III Juli, tiga wilayah ini kami sebut mengalami kekeringan meteorologis terpanjang," katanya.

    Dia mengatakan Kabupaten Sumba Timur di wilayah sekitar Rambangaru merupakan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan terpanjang, yakni 137 hari. Wairiang di Kabupaten Lembata mengalami hari tanpa hujan 126 hari dan Umarese di Kabupaten Belu mengalami hari tanpa hujan 105 hari.

    Selain itu, kekeringan ekstrem juga melanda hampir semua wilayah di provinsi berbasis kepulauan itu.

    Analisis curah hujan dasarian III Juli 2019, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) seluruhnya mengalami curah hujan dengan kategori Rendah (0-50 mm).

    Berdasarkan peta prakiraan BMKG, peluang curah hujan dasarian I Agustus 2019, diketahui bahwa wilayah NTT pada umumnya diprakirakan memiliki peluang curah hujan 0-20 mm sebesar 90-100 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.