Karhutla di Tanjung Jabung Timur Jambi Capai 488 Hektare

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan penyekatan api di lahan gambut yang terbakar di Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Jumat 9 Agustus 2019. Penyekatan yang dilakukan salah satu perusahaan tersebut bertujuan mencegah meluasnya sebaran titik api guna mempercepat upaya pemadaman dari darat dan udara yang terus dilakukan tim satgas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) setempat. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

    Pekerja melakukan penyekatan api di lahan gambut yang terbakar di Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Jumat 9 Agustus 2019. Penyekatan yang dilakukan salah satu perusahaan tersebut bertujuan mencegah meluasnya sebaran titik api guna mempercepat upaya pemadaman dari darat dan udara yang terus dilakukan tim satgas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) setempat. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Jambi - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mencapai luas 488 hektare sejak musim kemarau melanda provinsi itu. Dari sebelas kecamatan di kabupaten itu, seluas 255 hektare lahan terbakar berada di Kecamatan Sadu.

    "Kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut sudah terjadi sekitar sepekan lalu, hingga saat ini belum berhasil dipadamkan," kata Camat Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Frans Afrianto, Selasa, 10 September 2019.

    Di Kecamatan Sadu saat ini ada tiga titik api yang terpantau, yakni di Desa Baku Tuo, Desa Sungai Sayang, dan Desa Air Hitam Laut. Di Desa Baku Tuo merupakan yang terparah, bahkan kebakaran hutan dan lahan sudah mendekati pemukiman warga.

    Karhutla yang terjadi di kecamatan itu dimulai sejak satu bulan yang lalu. Meski sempat padam karena diguyur hujan beberapa waktu lalu, namun karena di kawasan itu merupakan lahan gambut dan hujan tidak lagi turun, titik api bermunculan kembali di daerah itu.

    "Titik api di lokasi Karhutla seakan tidak ada habisnya, ketika tim pemadam tengah melakukan proses pendinginan di salah satu titik api, muncul lagi titik api yang baru di satu hamparan yang sama dan begitulah seterusnya," kata Frans Afrianto.

    Meski sempat dibantu oleh water bombing, namun usaha tersebut seakan tidak cukup membantu. Hal ini dikarenakan cukup tebalnya lapisan gambut, belum lagi ditambah dengan angin yang cukup kencang di lokasi Karhutla.

    Dampak dari karhutla tersebut, kabut asap yang pekat menyelimuti kabupaten itu hingga pemerintah daerah harus mengambil kebijakan untuk meliburkan sekolah siswa sekolah dasar.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.